Empat Persiapan Sambut Ramadan 1447 H

 Empat Persiapan Sambut Ramadan 1447 H

Ilustrasi

WAKTU berjalan tanpa kompromi. Tanpa terasa, kalender hijriah kembali memutar rodanya, membawa kita mendekat pada tamu agung yang paling dinantikan oleh miliaran sanubari, yaitu Ramadan 1447 H.

Bagi seorang mukmin, Ramadan bukan sekadar siklus lapar dan dahaga yang bersifat seremonial. Ia adalah sebuah “proyek besar” transformasi diri yang memerlukan perencanaan matang.

Dalam tradisi para salafus saleh, persiapan menyambut Ramadan tidak dilakukan semalam sebelumnya. Mereka bahkan telah memohon dipertemukan dengan bulan suci ini sejak enam bulan sebelumnya.

Mengapa? Karena mereka sadar bahwa kualitas “panen” pahala di bulan Ramadan sangat bergantung pada kualitas “benih” yang ditanam pada bulan Rajab dan Sya’ban.

1. Persiapan Ruhiyah (Spiritual)

Persiapan pertama dan yang paling fundamental adalah Ruhiyah. Ibarat sebuah bejana, hati kita tidak akan bisa menampung tetesan wahyu dan keberkahan Ramadan jika ia masih penuh dengan residu kedengkian, kemaksiatan, dan keterpautan pada dunia yang berlebihan.

Dalam buku “Pedoman Puasa” karya Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, dijelaskan bahwa puasa yang benar adalah puasa yang melibatkan seluruh dimensi batin. Persiapan ruhiyah dimulai dengan taubatan nasuha. Memasuki Ramadan dengan beban dosa yang belum dimintakan ampunan ibarat berlari maraton dengan memanggul batu di punggung; kita akan cepat lelah dan kehilangan arah.

Langkah praktis sebagai persipan ruhiyah antara lain:

a. Meluruskan Niat. Mengutip Sayyid Sabiq, segala amal bergantung pada niat. Pastikan motivasi kita berpuasa murni untuk meraih ridha Allah, bukan karena sungkan pada lingkungan atau sekadar rutinitas.

b. Akrab dengan Al-Qur’an. Jangan menunggu Ramadan untuk membuka mushaf. Mulailah membangun interaksi harian di bulan Sya’ban agar saat Ramadan tiba, lisan kita sudah terbiasa berselancar di atas ayat-ayat-Nya.

c. Doa yang Kontinu. Memperbanyak doa “Allahumma Bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa Ballighna Ramadhana” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan).

Persiapan spiritual ini bertujuan agar saat hilal 1 Ramadan 1447 H nampak, jiwa kita sudah dalam kondisi “panas” (warm-up), siap untuk langsung berlari kencang dalam ibadah.

2. Persiapan Jasadiyah (Fisik)

Banyak dari kita yang sering melupakan bahwa ibadah di bulan Ramadan, mulai dari puasa belasan jam hingga Shalat Tarawih yang panjang, membutuhkan stamina fisik yang prima. Jasadiyah yang lemah sering kali menjadi penghambat maksimalnya ibadah.

Rasulullah saw adalah pribadi yang sangat memperhatikan kesehatan. Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Persiapan fisik bukan berarti kita harus menjadi atlet, melainkan memastikan tubuh kita siap beradaptasi dengan perubahan pola makan dan pola tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − 3 =