Mahasiswa STIQ Ar-Rahman Kembali ke Kampus Usai Jalani PKM sebagai Relawan di Aceh
Aceh Timur (Mediaislam.id)–Sebanyak 10 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ar-Rahman kembali ke kampus setelah menuntaskan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) sebagai relawan kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh.
Para relawan diberangkatkan pada Kamis, 18 Desember 2025, dari AQL Islamic Center dan dilepas langsung oleh KH Bachtiar Nasir, Lc., M.M. Setelah menjalani masa pengabdian hampir satu bulan, para mahasiswa kembali ke kampus pada Senin, 19 Januari 2026.
Mahasiswa yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini berasal dari semester satu, tiga, dan lima Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) serta Program Studi Ilmu Hadis (IH). Mereka adalah M. Lathiful Hakim, Ahmad Ibnu Mubarok, Eko Saputra, Fahri Rumaday, Gus Rumasisin, Ahmad Mubasyir, Asyraf Anwar, Aditya Pranata, Ibnu Khattab, dan Zakaria.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa STIQ Ar-Rahman berkolaborasi dengan sejumlah lembaga sosial di bawah naungan AQL Islamic Center, antara lain AQL Peduli, Laznas AQL, dan Wakaf Qur’an, dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Kegiatan difokuskan pada wilayah-wilayah terisolasi yang telah melalui proses asesmen lapangan, khususnya di Kabupaten Aceh Timur, meliputi Desa Babo, Pante Kera, dan Batu Sumbang, yang hingga kini belum mendapatkan aliran listrik secara normal. Selama ini, warga setempat hanya mengandalkan panel surya sebagai sumber penerangan. Selain itu, relawan juga menjangkau sejumlah desa di Kabupaten Aceh Tamiang.
Selama masa pengabdian, para relawan menjalankan berbagai program kemanusiaan, di antaranya trauma healing bagi anak-anak dan orang dewasa melalui kegiatan pendampingan dan hiburan guna membantu pemulihan psikologis warga pascabencana. Relawan juga melakukan aksi bersih-bersih rumah warga yang terdampak banjir dan lumpur. Salah seorang warga terdampak, Dara, menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan para relawan.

“Terima kasih banyak, Dek. Kalau saya sendiri, mungkin ini tidak akan selesai,” ujarnya.
Selain itu, relawan mendistribusikan berbagai bantuan logistik ke wilayah yang sulit dijangkau, seperti sembako, pakaian, perlengkapan mandi, alas tidur, obat-obatan, lampu surya, serta perlengkapan khusus perempuan.
Melalui program Satu Rumah Satu Cahaya, tim relawan menyalurkan panel surya ke desa-desa yang belum memiliki akses listrik, seperti Batu Sumbang dan Pante Kera. Yazid, warga Desa Batu Sumbang, mengaku terharu dengan bantuan tersebut.
“Ibu-ibu sangat senang, apalagi yang punya anak. Selama ini menyusui di malam hari tanpa lampu,” katanya.
Relawan juga mendirikan dapur umum yang menyediakan makanan tiga kali sehari bagi warga terisolasi, khususnya di wilayah Tanah Terban, Kabupaten Aceh Tamiang. Warga setempat menyebutkan bahwa dapur umum tersebut sangat membantu karena peralatan masak mereka hanyut terbawa banjir.
Di bidang keagamaan, para relawan menyalurkan Al-Qur’an ke masjid-masjid dan wilayah terdampak, serta melakukan pembersihan masjid yang masih dipenuhi lumpur. Warga Desa Tipa mengungkapkan rasa syukur karena dapat kembali mengaji setelah menerima bantuan Al-Qur’an.
Salah satu relawan, M. Lathiful Hakim, menuturkan bahwa keterlibatannya sebagai tim asesmen memberikan banyak pelajaran berharga.

“Setiap hari kami turun ke desa dan mendengarkan keluhan warga. Tidak semuanya menyambut dengan senang, ada juga yang meluapkan emosi. Itu wajar mengingat apa yang mereka alami. Tugas kami adalah mendengarkan, tidak menghakimi, dan memberi rasa aman,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi Aceh hingga kini belum sepenuhnya pulih dan masih membutuhkan perhatian dari berbagai pihak.
“Aceh belum baik-baik saja. Jangan kita terlena dengan pemberitaan yang tidak penting dan tidak bermanfaat, karena saudara-saudara kita di sini masih membutuhkan uluran tangan,” katanya.
Para relawan berharap proses pemulihan Aceh dapat segera terwujud, khususnya dalam aspek pemulihan psikologis anak-anak korban bencana, serta adanya perhatian dan langkah konkret dari pemerintah agar penanganan pascabencana berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.* (Hdyti)
