Dimensi Spiritual dan Sosial Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw
Ilustrasi
PERISTIWA Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw bukanlah sekadar mukjizat yang menembus batas nalar manusia, melainkan sebuah proklamasi besar tentang arah peradaban Islam.
Di tengah kepungan duka yang menyelimuti Rasulullah Saw, yang dikenal sebagai Amul Huzni, Allah SWT menghibur kekasih-Nya dengan perjalanan vertikal dan horizontal yang sarat akan makna simbolis.
Al-Mubarokfury dalam “Ar-Rahiq Al-Makhtum” menjelaskan, Isra Mikraj terjadi di periode tersulit dakwah di Makkah. Rasulullah Saw baru saja kehilangan pelindung internalnya, Ummul Mukminin Khadijah ra., dan pelindung eksternalnya, Abu Thalib (Al-Mubarokfury, 2021). Tekanan kaum Quraisy semakin brutal, bahkan percobaan dakwah ke Ta’if berakhir dengan pengusiran dan luka fisik.
Dalam kondisi inilah, Isra Mikraj hadir sebagai bentuk tasliyah (hiburan) dari Allah. Namun, sebagaimana ditegaskan oleh Said Ramadhan Al-Buthi dalam “Fiqhus Sirah”, perjalanan ini bukan sekadar wisata ruhani untuk menghilangkan kesedihan, melainkan persiapan bagi fase dakwah yang lebih besar: pembangunan masyarakat di Madinah (Al-Buthi, 2010).
Dimensi Spiritual: Shalat sebagai Mikraj Mukmin
Dimensi spiritual paling mendasar dari Isra Mikraj adalah pensyariatan shalat lima waktu. Berbeda dengan ibadah lain yang wahyunya turun melalui perantara Jibril as., shalat diberikan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw di Sidratul Muntaha.
Said Ramadhan Al-Buthi menganalisis bahwa shalat adalah “hadiah” yang memungkinkan setiap Muslim melakukan “mikraj” spiritualnya sendiri setiap hari. Jika Nabi Saw menembus langit ketujuh untuk menghadap Allah, maka seorang mukmin menembus batas-batas keduniawian melalui sujudnya (Al-Buthi, 2010).
Shalat adalah sarana pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) yang paling efektif. Tanpa koneksi spiritual yang kuat, perjuangan sosial akan kehilangan ruhnya.
Muhammad As-Shalabi dalam buku “Sirah Nabawiyah”-nya menambahkan, pertemuan Nabi dengan para nabi terdahulu di berbagai tingkatan langit melambangkan kesatuan risalah tauhid (As-Shalabi, 2012). Hal ini memberikan kekuatan spiritual bahwa Islam bukanlah agama baru, melainkan penyempurna dari cahaya ilahi yang telah ada sejak Nabi Adam as.
Dimensi Sosial: Kepemimpinan di Baitul Maqdis
Seringkali, narasi Isra Mikraj berhenti pada perjalanan ke langit. Padahal, dimensi sosial-politiknya justru sangat kental terlihat pada fase “Isra” (perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa). Di Baitul Maqdis, Nabi Muhammad Saw mengimami shalat para nabi terdahulu.
Syekh Muhammad Rawwas Qal’ah Jie dalam “Sirah Nabawiyah” menyoroti peristiwa ini sebagai simbol peralihan kepemimpinan dunia. Menjadi imam bagi para nabi menunjukkan bahwa kepemimpinan umat manusia telah berpindah ke tangan umat Islam, dengan Al-Qur’an sebagai pedoman universalnya (Qal’ah Jie, 2005). Ini adalah pesan sosial bahwa Islam membawa misi rahmatan lil ‘alamin yang melampaui batas geografis suku Quraisy maupun bangsa Arab.
Kepemimpinan ini bukan tentang dominasi, melainkan tentang penegakan keadilan. As-Shalabi menekankan bahwa keterikatan antara Makkah (Masjidil Haram) dan Palestina (Masjidil Aqsa) dalam satu perjalanan suci adalah isyarat bahwa urusan umat Islam adalah satu (As-Shalabi, 2012).
Hal ini relevan bagi kita saat ini untuk melihat isu Palestina bukan sekadar konflik wilayah, melainkan amanah iman dan sosial yang berakar pada peristiwa Isra Mikraj.
