Gaza Dilanda Cuaca Ekstrem, Anak-anak Meninggal Kedinginan
Gaza (Mediaislam.id) – Bencana kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk seiring gelombang dingin ekstrem yang kembali melanda wilayah tersebut. Kantor Media Pemerintah di Gaza mengonfirmasi bahwa jumlah warga Palestina yang meninggal akibat radang dingin sejak awal musim dingin kini meningkat menjadi tujuh orang, seluruhnya anak-anak, di tengah pengepungan Israel yang masih berlangsung, kehancuran infrastruktur luas, serta ketiadaan tempat berlindung yang aman.
Dilansir Pusat Informasi Palestina, Rabu (14/1), kantor media menyebutkan bahwa total korban tewas akibat cuaca dingin dan runtuhnya bangunan sejak dimulainya perang Israel di Gaza hingga 13 Januari 2026 telah mencapai 24 orang, semuanya merupakan pengungsi di kamp-kamp pengungsian paksa. Dari jumlah tersebut, 21 korban adalah anak-anak, menyoroti dampak paling mematikan dari krisis ini terhadap kelompok paling rentan.
Menurut keterangan resmi, angin kencang dan sistem tekanan rendah yang melanda Gaza selama dua hari terakhir telah menyapu dan menghancurkan sekitar 7.000 tenda pengungsi, memperparah penderitaan ribuan keluarga yang sebelumnya sudah hidup tanpa perlindungan memadai.
Media pemerintah Gaza menyatakan bahwa angka-angka ini merupakan “indikator yang sangat berbahaya” dari tragedi kemanusiaan yang terus meningkat. Hampir tidak adanya alat pemanas, ketiadaan tempat berlindung yang layak, serta kekurangan parah selimut dan pakaian musim dingin, diperburuk oleh pembatasan ketat Israel terhadap masuknya bantuan kemanusiaan dalam jumlah memadai, disebut sebagai faktor utama jatuhnya korban.
Sebelumnya, pemerintah Gaza telah memperingatkan dampak sistem tekanan rendah dan suhu beku yang melanda wilayah tersebut, serta meningkatnya risiko kematian bagi anak-anak, orang sakit, dan lansia. Peringatan itu juga menekankan bahwa jumlah korban jiwa berpotensi terus bertambah apabila kondisi kemanusiaan dibiarkan berlanjut tanpa intervensi internasional yang segera dan efektif.
Dalam pernyataannya, media pemerintah Gaza menegaskan bahwa pendudukan Israel sepenuhnya dan secara langsung bertanggung jawab atas apa yang disebut sebagai “pembunuhan perlahan” terhadap penduduk Jalur Gaza. Situasi ini dipandang sebagai kelanjutan dari kebijakan sistematis kelaparan, pengungsian paksa, dan pengepungan, yang menjadikan cuaca ekstrem sebagai senjata tambahan terhadap warga sipil.
Pemerintah Gaza menyerukan kepada komunitas internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia untuk segera bertindak, dengan menyediakan tempat perlindungan yang aman, serta mengizinkan masuknya pasokan pemanas dan bantuan kemanusiaan tanpa pembatasan, demi menyelamatkan nyawa yang tersisa sebelum terlambat.
Tragedi ini kembali memicu kecaman luas dari berbagai kalangan internasional, yang menilai bahwa pembiaran terhadap penderitaan warga sipil, terutama anak-anak, di bawah pengepungan dan cuaca ekstrem merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional. Bagi ribuan keluarga pengungsi di Gaza, malam-malam musim dingin kini menjadi pertaruhan hidup dan mati, di tengah kehancuran, dingin yang menusuk, dan kegagalan dunia menghentikan kejahatan kemanusiaan yang terus berlangsung. []
