KH Cholil Nafis: Perbedaan Awal Puasa Hal yang Biasa di Indonesia

 KH Cholil Nafis: Perbedaan Awal Puasa Hal yang Biasa di Indonesia

Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis/Antara

Jakarta (Mediaislam.id)–Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis, menyatakan bahwa penetapan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Indonesia berpotensi kembali berbeda antara organisasi kemasyarakatan Islam dan pemerintah, sebagaimana yang telah terjadi sejak era 1990-an.

Menurut Kiai Cholil, Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara yang toleran dalam perbedaan penetapan awal Ramadan. Tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk mengikuti satu keputusan tertentu, termasuk keputusan pemerintah.

“Sejak tahun 1990-an, masyarakat sudah terbiasa dengan perbedaan awal puasa. Tidak ada paksaan, semua berjalan sesuai keyakinan dan metode masing-masing,” kata Kiai Cholil dalam status Facebook, Rabu (14/1/2026).

Untuk tahun 2026, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab wujudul hilal, yaitu ketika bulan secara astronomis sudah berada di atas ufuk.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyatul hilal dan imkanur rukyah, yakni berdasarkan kemungkinan dan keterlihatan bulan secara faktual. Berdasarkan perhitungan ilmu falak, pada 18 Februari 2026 hilal diperkirakan belum mungkin terlihat, sehingga NU diperkirakan akan menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari (istikmal). Dengan demikian, 1 Ramadan versi NU jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

“Biasanya pemerintah menetapkan awal Ramadan mengikuti hasil rukyat dan istikmal sebagaimana yang digunakan NU,” ujar Kiai Cholil.

Ia menjelaskan, perbedaan ini muncul karena perbedaan standar penetapan awal bulan Hijriah. Muhammadiyah berpegang pada wujudul hilal, sedangkan NU berpegang pada imkanur rukyah dan rukyatul hilal. Pemerintah sendiri mengombinasikan metode hisab dan rukyat, namun keputusan akhirnya tetap didasarkan pada hasil rukyatul hilal melalui sidang isbat.

Meski demikian, KH Cholil Nafis mengimbau umat Islam agar tidak terjebak dalam polemik perbedaan tanggal, dan lebih fokus pada substansi ibadah Ramadan.

“Mari kita songsong Ramadan dengan penuh kebaikan. Perbedaan adalah keniscayaan. Laksanakan ibadah sesuai keyakinan masing-masing dan jaga kekhusyukan,” pungkasnya.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × 3 =