Dakwah dari Dapur, Ketum Al Washliyah Soroti Pentingnya Kekuatan Ekonomi Umat

 Dakwah dari Dapur, Ketum Al Washliyah Soroti Pentingnya Kekuatan Ekonomi Umat

Bogor (Mediaislam.id)–Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah), Dr. H. Masyhuril Khamis, S.H., M.M., mengingatkan bahwa tantangan dakwah hari ini tidak lagi semata soal mimbar dan ceramah, melainkan juga tentang siapa yang mampu hadir di dapur kehidupan umat.

Dalam pembukaan Rapat Kerja Lembaga Amil Zakat Nasional Al Washliyah Zakat, Infak, dan Sedekah (Laznas Alzis) di Cisarua, Bogor, Senin malam (12/1/2026), Masyhuril menyampaikan bahwa banyak pihak yang berhasil menyentuh hati masyarakat bukan melalui retorika, tetapi melalui pemenuhan kebutuhan hidup.

“Umat Islam sering berdakwah dari podium dan mimbar. Sementara yang lain masuk melalui dapur. Mereka memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, dan tanpa banyak bicara orang akhirnya mengikuti mereka,” ujar Masyhuril di hadapan pengurus Laznas Alzis dari berbagai daerah.

Rapat kerja yang dihadiri pengurus PB Al Washliyah, pimpinan Laznas Alzis, serta perwakilan dari Jabodetabek, Sumatera Utara, Jawa Barat hingga Nusa Tenggara Timur itu menjadi momentum refleksi tentang arah gerakan zakat dan pemberdayaan umat ke depan.

Masyhuril kemudian mengisahkan pengalamannya saat berkunjung ke Kalimantan dan NTT. Dalam sebuah acara ceramah, ia terkejut melihat banyak ibu-ibu datang membawa makanan. Bukan sekadar jamuan biasa, makanan itu harus dicicipi oleh penceramah karena diyakini sebagai bentuk keberkahan.

“Kalau tidak dicicipi, bisa ribut satu kampung. Karena makanan itu dianggap tidak direstui ustaz,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Masyhuril, pengalaman itu menggambarkan betapa kuatnya peran pendekatan sosial dan ekonomi dalam membangun pengaruh keagamaan. Dakwah yang menyentuh kebutuhan nyata, yakni pangan, ekonomi, dan kesejahteraan, sering kali lebih efektif daripada sekadar kata-kata.

Karena itu, ia menegaskan, Laznas Alzis tidak boleh hanya menjadi lembaga penghimpun dana, tetapi harus tampil sebagai garda depan dakwah melalui pemberdayaan ekonomi umat. Dari “dapur” inilah, kata dia, kepercayaan dan keberpihakan masyarakat bisa dibangun secara nyata.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 19 =