Kemenag Berikan Dukungan Psikososial bagi Penyintas Bencana di Sumatra

 Kemenag Berikan Dukungan Psikososial bagi Penyintas Bencana di Sumatra

Jakarta, Mediaislam.id–Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama (Kemenag), memberikan dukungan psikososial bagi penyintas bencana alam di wilayah Sumatra, khususnya Provinsi Aceh. Program ini merupakan bagian dari Penanganan Rehabilitasi Sosial Psikologis sebagai respons cepat atas dampak banjir dan longsor di sejumlah daerah.

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, mengatakan, dampak bencana alam tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam bagi para penyintas.

“Bencana tidak hanya merusak rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan infrastruktur, tetapi juga sangat memengaruhi kesehatan mental dan psikososial penyintas, terutama anak-anak, remaja, orang tua, dan keluarga,” ujar Ahmad Zayadi saat dihubungi pada Rabu (7/1/2026).

Ia menjelaskan, trauma pascabencana berpotensi menimbulkan berbagai gangguan psikologis, seperti gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga konflik dalam keluarga apabila tidak ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.

“Berbagai studi menunjukkan bahwa intervensi psikososial berbasis komunitas efektif untuk meminimalkan gangguan psikologis, memperkuat koneksi sosial, serta meningkatkan ketahanan keluarga. Metode seperti terapi bermain, storytelling, pelatihan coping, dan konseling keluarga terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan dan stres penyintas,” jelasnya.

Berdasarkan kondisi dan kebutuhan di lapangan, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag bekerja sama dengan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) dalam pelaksanaan program dukungan psikososial. Untuk tahap awal, program ini diprioritaskan di Provinsi Aceh.

Program tersebut melibatkan relawan penyuluh agama, penghulu, relawan organisasi kemasyarakatan NU, serta guru PAUD, TK, dan RA, dengan tujuan memperkuat sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan terkait.

“Program ini kami rancang tidak hanya sebagai respons cepat, tetapi juga berkelanjutan. Fokusnya adalah memperkuat kesehatan mental keluarga dan komunitas, terutama bagi penyintas dengan kondisi subklinis yang belum mengalami gangguan jiwa berat,” tambah Ahmad Zayadi.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menyampaikan, hasil asesmen Kantor Wilayah Kemenag Aceh menunjukkan sejumlah daerah mengalami dampak bencana yang cukup berat dan berpotensi menimbulkan kerentanan sosial psikologis.

“Hasil asesmen menunjukkan wilayah dengan dampak cukup berat antara lain Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tengah khususnya Kecamatan Takengon, Bener Meriah, Gayo Lues, Kota Langsa, Aceh Singkil, dan Aceh Tamiang,” ungkap Zudi.

Namun, pada tahap awal pelaksanaan, dukungan psikososial difokuskan pada tiga kabupaten, yaitu Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Utara. Penetapan lokasi tersebut mempertimbangkan tingkat kerusakan yang berat, jumlah penyintas dan pengungsi yang besar, tingginya kelompok rentan terutama anak-anak, lamanya masa tinggal di pengungsian, serta akses menuju lokasi yang telah terbuka.

Rangkaian pembekalan relawan dijadwalkan berlangsung pada 5 Januari 2026 di Kantor Kemenag Kabupaten Pidie Jaya, 6 Januari 2026 di Kantor KUA Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, dan 7 Januari 2026 di Kantor Kemenag Kabupaten Bireuen. Sementara kegiatan konseling, konsultasi, dan trauma healing bagi anak-anak akan dilaksanakan pada 8 Januari 2026 di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.

“Melalui pembekalan Psychological First Aid (PFA) dan Rapid Assessment Mental Health, kami berharap para relawan mampu memberikan pendampingan yang tepat, memperkuat ketahanan psikososial penyintas, serta mendorong advokasi layanan kesehatan mental di daerah terdampak,” pungkas Zudi.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one + 9 =