Sabar dan Syukur, Dua-duanya Kebaikan
Ilustrasi
Entah bagian yang mana Allah Ta’ala Takdirkan pada situasi itu, bisa jadi keadaan waktu susah justru kebaikan yang didapat tapi manusia banyak menghindarinya, namun keadaan senang justru keburukan yang diperoleh tapi malah manusia merasa suka cita.
Karena orang yang mendapatkan kesenangan membutuhkan rasa syukur, sedangkan orang yang mendapatkan kesusahan membutuhkan kesabaran. Dengan demikian, sesungguhnya kesabaran dan rasa syukur itu adalah wajib. Jika dia meninggalkannya maka dia patut mendapatkan sanksi.
Ada pun kesabaran orang yang mendapatkan kesenangan, maka kadang-kadang kesabaran itu adalah sunnah, jika hal itu merupakan karunia yang bersifat syahwat. Dan kadang-kadang juga hukumnya wajib. Tetapi, di samping harus menunjukkan rasa syukur yang merupakan kebaikan, dia juga harus meminta ampunan dari keburukannya.
Demikian pula, orang yang mendapatkan kesusahan, maka rasa syukur bukanlah sunnah baginya jika itu merupakan rasa syukur yang akan menjadikan dia sebagai bagian dari orang-orang sebelumnya yang telah mendekatkan diri kepada Allah.
Kadang-kadang sedikitnya rasa syukur merupakan salah satu hal yang akan membuat dia mendapat ampunan, jika hal itu mendatangkan kesabaran. Sesungguhnya berkumpulnya rasa syukur dan kesabaran secara bersama-sama akan menjadikannya bersabar atas penderitaan tersebut dan bersyukur atas nikmat tersebut. Ini adalah keadaan yang sulit bagi kebanyakan manusia.
Allah Ta’ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)
Sungguh kehidupan yang senang dan susah, dua duanya adalah ujian. Kebaikan yang didapat ataupun keburukan keduanya juga ujian. Berhasil ataupun gagal, keduanya juga ujian.
Ibnu Jarir menukil bahwa Ibnu Abbas berkata : Kami (Allah Ta’ala) akan menguji kalian dengan kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan. Dengan sesuatu yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan petunjuk dan kesesatan.
Juga dalam riwayat yang lain dari Ibnu Abbas dikatakan : Dengan kelapangan dan kesempitan, yang kedua duanya adalah ujian.
Ibnu Zaid berkata : Kami akan menguji mereka dengan sesuatu yang mereka sukai dan mereka benci. Kami akan menguji mereka dengan semua itu untuk mengetahui tingkat kesyukuran mereka terhadap hal hal yang mereka cintai dan tingkat kesabaran mereka terhadap hal hal yang mereka benci. (Tafsir Ibnu Jarir at Thabari).
Semoga kita menjadi Muslim yang selalu ridho dengan takdir Allah dan menghadapi setiap kondisi sesuai yang diperintahkan, bersyukur ketika diberi nikmat dan bersabar ketika diuji. Wallahu a’lam. (AM)
