Bayi-Bayi di Gaza Gugur Sebelum Menatap Dunia

 Bayi-Bayi di Gaza Gugur Sebelum Menatap Dunia

Yahya al-Batran menangisi jenazah putranya yang berusia 20 hari, Jumaa, yang meninggal karena hipotermia, di RS Syuhada Al-Aqsa di pusat Gaza [Foto: AP]

Gaza (Mediaislam.id) – Di tengah reruntuhan yang mengepul, sebuah tragedi senyap sedang berlangsung di dalam rahim para ibu di Gaza. Bukan hanya peluru yang membunuh, tetapi rasa lapar dan penghancuran sistematis terhadap harapan masa depan.

Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza merilis data yang memilukan: jumlah kelahiran bayi merosot tajam hingga 40% dibandingkan tahun lalu. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm kematian bagi sebuah generasi.

Masa Depan yang Hangus di Tabung Reaksi

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Munir al-Barsh, mengungkapkan sisi paling kelam dari agresi ini. Israel tidak hanya menargetkan bangunan, tetapi juga “masa depan” yang disimpan dalam bentuk embrio.

Pemboman terhadap Pusat Kesuburan Al-Basma menjadi bukti nyata. Serangan tersebut menghancurkan tangki nitrogen cair, menghanguskan sekitar 4.000 embrio yang telah dibuahi. Harapan ribuan pasangan untuk memiliki keturunan musnah dalam sekejap di bawah reruntuhan laboratorium.

“Ini adalah pukulan fatal bagi masa depan kesehatan reproduksi di Gaza,” ujar al-Barsh dengan nada getir.

Kelaparan: Pembunuh Diam-diam bagi Janin

Bagi ibu hamil yang berhasil bertahan dari pemboman, tantangan berikutnya tidak kalah mematikan. Kelaparan akut kini menjadi ancaman utama. Al-Barsh melaporkan penurunan angka kelahiran bulanan dari 26.000 menjadi hanya 17.000 jiwa.

Fenomena berat badan lahir rendah (BBLR) kini meluas secara mengerikan. Tanpa akses ke suplemen nutrisi dasar dan makanan yang layak, janin-janin di Gaza berjuang bertahan hidup dalam kondisi kekurangan gizi sejak di dalam kandungan. Hal ini dipicu oleh blokade ketat yang mencegah masuknya bantuan medis dan nutrisi penting bagi ibu hamil.

Genosida yang Mengabaikan Seruan Dunia

Krisis reproduksi ini hanyalah satu fragmen dari genosida yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Dengan dukungan logistik dan politik dari kekuatan Barat, agresi ini telah mengabaikan putusan Mahkamah Internasional (ICJ).

Hingga saat ini, lebih dari 239.000 warga Palestina tercatat menjadi korban—baik yang gugur sebagai martir maupun luka-luka. Mayoritas dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Angka ini belum termasuk 11.000 jiwa yang masih hilang di bawah puing, dan ratusan ribu lainnya yang terpaksa mengungsi tanpa jaminan keamanan sedikit pun.

Dunia Menanti Keadilan

Meskipun perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, luka yang ditinggalkan terlampau dalam. Para ahli kesehatan internasional memperingatkan adanya dampak kesehatan jangka panjang yang bersifat permanen bagi populasi Gaza.

Sikap dunia kini diuji. Di saat kelaparan merenggut nyawa bayi dan klinik-klinik kesuburan dibungkam, kejahatan ini bukan lagi sekadar urusan perang, melainkan upaya penghapusan sebuah bangsa secara perlahan namun terencana.

sumber: infopalestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 − six =