10 Tanda Jatuh Cinta Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

 10 Tanda Jatuh Cinta Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Ilustrasi: Jatuh Cinta

CINTA adalah kosa kata yang paling banyak diperbincangkan dalam sejarah manusia, namun paling sulit untuk didefinisikan secara tunggal.

Dalam Islam, perasaan condongnya hati kepada sesuatu (al-mayl) adalah fitrah. Allah SWT berfirman: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang banyak…” (QS. Ali Imran: 14).

Namun, bagaimana kita tahu bahwa getaran di dada itu adalah cinta yang sejati, bukan sekadar kekaguman sesaat atau bisikan nafsu?

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang “dokter hati” lintas zaman, telah merangkum tanda-tanda tersebut dalam kitab klasiknya, “Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin” (Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu). Ia membedah cinta dengan pisau bedah psikologi yang sangat halus, yang bahkan mendahului teori-teori modern.

1. Pandangan Mata yang “Berbicara” (Lahan al-’Ayn)

Tanda pertama yang paling sulit disembunyikan adalah pandangan mata. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa mata adalah pintu gerbang hati. Seseorang yang jatuh cinta akan sering mencuri pandang kepada orang yang dicintainya, namun segera memalingkan muka saat ketahuan karena rasa malu yang membuncah (Al-Jauziyah, 2011: 145).

Mata seorang pencinta cenderung mengikuti ke mana pun objek cintanya bergerak. Hal ini selaras dengan sebuah hadits bahwa “Mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang” (HR. Muslim).

Dalam konteks ini, Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa tanda cinta yang suci adalah ketika mata tersebut penuh dengan kekaguman yang terjaga, bukan tatapan liar yang merendahkan.

2. Salah Tingkah dan Kegugupan (Al-Bahat)

Pernahkah Anda tiba-tiba kehilangan kata-kata atau mendadak gugup saat bertemu seseorang? Ibnul Qayyim menyebut ini sebagai tanda nyata. Getaran di hati akibat gejolak cinta sering kali mengganggu transmisi saraf menuju lisan. Sang pencinta mungkin akan terlihat bingung, gemetar, atau mendadak berubah suaranya saat berbicara dengan sosok yang dipuja (Al-Jauziyah, 2011: 148).

Kisah dari kalangan Tabi’in menceritakan bagaimana seorang pemuda yang dikenal cerdas dan fasih lisan, mendadak menjadi gagap saat harus berhadapan dengan wanita yang ingin ia khitbah. Baginya, wibawa orang yang dicintai telah “menawan” logikanya.

3. Selalu Menyebut Namanya (Katsratu ad-Dikr)

Logika jatuh cinta itu sederhana: apa yang memenuhi hati akan meluap melalui lisan. Ibnul Qayyim mencatat bahwa tanda orang jatuh cinta adalah kegemarannya menceritakan, menyebut, atau sekadar mendengarkan nama orang yang dicintai (Al-Jauziyah, 2011: 152).

Jika dalam sebuah majelis disebut nama sang kekasih, wajah orang yang jatuh cinta akan berubah cerah, atau sebaliknya, ia akan terdiam seribu bahasa untuk menikmati penyebutan nama tersebut. Hal ini menyerupai hamba yang mencintai Tuhannya, di mana tanda utamanya adalah lisannya yang tak pernah kering dari dzikrullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − four =