Rajab, Tasyabbuh dan Krisis Identitas Umat
Ilustrasi
Rajab kembali datang. Sebuah bulan haram yang dimuliakan Allah, yang seharusnya membuat seorang Muslim lebih berhati-hati dalam sikap, pilihan dan arah hidup. Namun ironisnya, Rajab hari ini justru sering berpapasan dengan euforia Natal dan Tahun Baru sebuah perayaan yang lahir dari akidah dan pandangan hidup non-Islam. Di titik inilah persoalan umat menjadi nyata yaitu krisis identitas.
Rajab bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah peringatan ideologis. Allah memuliakan bulan-bulan tertentu agar manusia sadar bahwa hidup tidak berjalan netral. Ada waktu yang harus dijaga, ada batas yang tidak boleh dilanggar, dan ada identitas yang tidak boleh dikaburkan.
Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Di bulan yang Allah haramkan kezaliman dan dosa, umat Islam justru disuguhi normalisasi tasyabbuh bil kuffar ikut larut dalam simbol, ucapan, dan budaya perayaan Natal dan Tahun Baru atas nama toleransi, kebiasaan, bahkan “sekadar ikut ramai”.
Masalahnya, ini bukan sekadar soal sosial. Ini soal akidah dan arah loyalitas. Rasulullah Saw telah mengingatkan dengan tegas: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” Hadis ini tidak bicara tentang hidup berdampingan atau berbuat baik Islam sangat menjunjung keduanya. Tetapi hadis ini bicara tentang penyerupaan dalam hal yang menjadi ciri khas keyakinan dan peradaban.
Toleransi tidak pernah berarti melebur. Menghormati tidak pernah berarti meniru. Dan hidup damai tidak pernah menuntut kita kehilangan jati diri. Rajab justru datang untuk menguatkan garis pembeda itu.
Lebih menyedihkan lagi, krisis ini tidak berhenti di level individu. Negara dan para pejabat sering kali ikut menormalisasi kaburnya batas. Ucapan, simbol, dan perayaan lintas akidah dipertontonkan secara terbuka, seolah agama hanyalah urusan privat yang tak boleh mempengaruhi sikap publik.
Padahal dalam Islam, kekuasaan adalah amanah ideologis, bukan sekadar administratif. Umar bin Abdul Aziz pernah gemetar menyambut bulan-bulan haram karena takut berbuat zalim. Hari ini, justru di bulan yang sama, nilai-nilai Islam dikompromikan atas nama stabilitas, citra, dan kepentingan.
Rajab menjadi cermin yang memalukan: Umat yang memiliki kalender sendiri, hari raya sendiri, dan sistem nilai sendiri namun sibuk merayakan milik orang lain.
Jika Rajab saja tidak mampu mengingatkan kita untuk menjaga batas iman, maka wajar jika Ramadhan datang tanpa perubahan. Sebab Ramadhan bukan awal kesadaran, ia adalah puncak dari proses panjang yang seharusnya dimulai sejak Rajab.
Rajab mengajarkan satu hal yang sering kita hindari: menjadi Muslim berarti berani berbeda. Bukan kasar, bukan eksklusif, tapi tegas. Bukan membenci, tapi menjaga kemurnian iman. Bukan reaktif, tapi sadar arah.
Jika umat terus larut dalam tasyabbuh, maka yang hilang bukan sekadar tradisi, melainkan izzah Islam itu sendiri. Wallahu a’lam bishowab. (UF)
