Rajab Bukan Sekadar Bulan Haram, Tapi Panggilan Perubahan

 Rajab Bukan Sekadar Bulan Haram, Tapi Panggilan Perubahan

Ilustrasi

Rajab kembali datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia hadir tanpa gaduh, tanpa euforia. Banyak orang melewatinya begitu saja sekadar tahu kalender berganti, lalu kembali sibuk dengan rutinitas dunia. Padahal dalam Islam, Rajab bukan bulan biasa. Ia adalah bulan haram, bulan yang Allah muliakan, dan seharusnya menjadi alarm perubahan bagi setiap Muslim.

Allah berfirman: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Para ulama sepakat, salah satu dari empat bulan haram itu adalah Rajab. Bulan yang sejak dahulu dijaga kehormatannya, di mana dosa dilipatgandakan bahayanya dan amal kebaikan dilipatgandakan nilainya. Namun ironisnya, hari ini Rajab sering kehilangan makna, ia datang tapi tidak mengubah apa pun.

Padahal Rajab bukan sekadar “bulan suci” dalam makna pasif. Rajab adalah bulan pemanasan ruh, persiapan mental dan spiritual menuju Ramadan. Para salaf dahulu berdoa: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad)

Doa ini bukan formalitas. Ia menunjukkan bahwa Ramadan tidak disiapkan di Ramadan, tapi jauh hari sebelumnya. Rajab adalah titik awalnya.

Namun hari ini, tantangan umat jauh lebih berat. Kita hidup di tengah sekularisasi digital, di mana waktu habis untuk layar, hati terikat pada algoritma, dan nilai Islam perlahan terdorong ke pinggir. Rajab datang di tengah umat yang lelah, generasi yang bingung identitas, dan kehidupan yang makin jauh dari aturan Allah. Justru di sinilah Rajab berbicara lantang.

Rajab mengingatkan bahwa perubahan tidak cukup dengan niat baik, tapi harus dimulai dengan taubat yang serius. Meninggalkan maksiat yang dinormalisasi. Menghentikan kebiasaan dosa yang dianggap kecil. Karena di bulan haram, dosa kecil bisa berbuah besar.

Rajab juga mengajarkan bahwa memperbaiki diri bukan hanya urusan ibadah personal, tapi juga kesadaran hidup di bawah sistem yang rusak. Ketika kezaliman struktural dianggap wajar, ketika hukum Allah disingkirkan dari kehidupan, maka Rajab menjadi panggilan untuk kembali berpikir: hidup ini mau diarahkan ke mana?

Bulan ini seharusnya melahirkan kegelisahan yang sehat, gundah karena iman terasa tipis, resah karena Islam hanya tinggal simbol dan rindu untuk hidup di bawah aturan Allah secara kaffah.

Rajab bukan bulan ritual tambahan. Ia adalah bulan evaluasi arah hidup. Apakah kita hanya ingin selamat secara individu, atau juga peduli pada kondisi umat? Apakah Islam hanya kita simpan di sajadah, atau kita bawa sebagai solusi kehidupan?

Jika Rajab berlalu tanpa perubahan, maka dikhawatirkan Ramadan pun hanya akan jadi rutinitas tahunan lapar dan haus tanpa makna perjuangan. Maka, siapa pun kita hari ini, Rajab sedang memanggil:

Berhenti menunda taubat. Mulai menata niat. Bangun kesadaran. Dan siapkan diri untuk perubahan yang lebih besar. Karena Rajab bukan sekadar bulan haram. Ia adalah panggilan perubahan. (UF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + fifteen =