Kesaksian Mengerikan Para Tawanan Palestina
Gaza (Mediaislam.id) – Tubuh mereka kurus kering, wajah pucat, rambut panjang dan kusut, kulit penuh luka, serta mata yang nyalang tak mampu menatap cahaya matahari. Mereka berjalan tertatih-tatih, seolah baru saja dibangkitkan dari kubur. Begitulah kondisi para tahanan Palestina yang dibebaskan dalam perjanjian pertukaran tahanan dengan Israel—sebuah pemandangan yang mengguncang nurani dunia.
Dari balik jeruji besi dan ruang penyiksaan, mereka keluar dengan tubuh remuk dan jiwa yang hancur. Setiap langkah mereka membawa kisah penderitaan panjang: kelaparan, penyiksaan, penghinaan, dan ancaman pembunuhan terhadap keluarga mereka di luar penjara.
Bagi sebagian dari mereka, penjara bukan sekadar tempat kurungan—melainkan kuburan hidup di mana manusia dipaksa kehilangan kemanusiaannya sedikit demi sedikit.
Tua Sebelum Waktunya: Wajah-Wajah yang Tak Lagi Sama
Para tahanan yang dibebaskan tampak jauh lebih tua dari usia mereka yang sebenarnya. Garis wajah mereka mencerminkan trauma yang tak dapat dilukiskan. Banyak yang kehilangan kemampuan bicara karena tekanan psikologis dan siksaan yang mereka alami selama bertahun-tahun di sel gelap.
Beberapa di antara mereka keluar dengan penyakit parah dan luka yang sengaja dibiarkan tanpa pengobatan. Mereka membawa kecemasan bagi rekan-rekan yang masih terbelenggu, menyerukan kepada dunia agar menyelamatkan ribuan tahanan Palestina yang masih disiksa dalam penjara Israel.
“Kami mati seribu kali setiap hari,” kata salah seorang di antara mereka. “Kami lapar, disiksa, dipermalukan. Jiwa kami dipatahkan sedikit demi sedikit.”
Naji al-Ja‘fari: Dari Lubang Kematian Menuju Cahaya
Salah satu kisah paling menyayat hati datang dari Naji al-Ja‘fari, seorang penghafal Al-Qur’an yang dikenal karena suara merdunya. Ia keluar dari penjara hanya untuk mengetahui bahwa saudaranya, jurnalis Saleh al-Ja‘fari, telah gugur beberapa jam sebelum pembebasannya, dibunuh oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan pendudukan di Gaza.
Dengan suara bergetar, Naji berkata kepada para wartawan, “Tak seorang pun dapat menggambarkan penjara. Kata-kata tak cukup. Bahkan orang yang paling fasih pun tak mampu melukiskan penderitaan di sana.”
Ia menceritakan bahwa selama lebih dari 100 hari ia ditutup matanya, diborgol di belakang, dan dibiarkan tanpa bergerak. Ia hanya diizinkan ke toilet sekali setiap dua hari, sambil dihina dan diinjak-injak oleh para sipir.
“Kami muncul dari kedalaman lubang, dari kematian, dari kubur, dari kehidupan api penyucian,” katanya lirih. “Kami tak tahu apakah akan kembali hidup, tapi kami yakin Tuhan tidak akan mengecewakan kami.”
Shadi Abu Sido: “Saya Tidak Sehat, Saya Kelaparan Dua Tahun”
Kisah lain datang dari Shadi Abu Sido, jurnalis foto Palestina yang juga dibebaskan. Tubuhnya lemah dan suaranya bergetar ketika berkata,
“Saya tidak sehat… Kami telah kelaparan selama dua tahun.”
Shadi menggambarkan penjara sebagai “penuh siksaan, penuh kehancuran, penuh hantu.” Ia menunjukkan luka-luka di tubuhnya, sambil menjelaskan bagaimana tulang-tulangnya dipatahkan oleh para penjaga penjara.
“Mereka mematahkan tangan saya, memukul dada saya, dan menghancurkan mata saya. Mereka berkata, ‘Kami akan mencungkil matamu, seperti kami mencungkil mata kameramu di Gaza.’”
Shadi bekerja sebagai jurnalis foto untuk Palestine Today TV, dan penyiksaannya menjadi bukti nyata bagaimana Israel menargetkan jurnalis bahkan di balik jeruji. Ketika pengacaranya, Sahar Francis, ingin melaporkan penyiksaan itu ke organisasi hak asasi manusia, Shadi menjawab getir,
“Jangan lapor ke organisasi HAM. Laporkan ke organisasi perlindungan hewan. Mungkin mereka punya belas kasihan yang lebih besar.”
