Syekh Abdul Qadir Al-Jazairi, Ulama dan Pejuang Aljazair

 Syekh Abdul Qadir Al-Jazairi, Ulama dan Pejuang Aljazair

Syekh Abdul Qadir Al-Jazairi

Syekh Abdul Qadir Al-Jazairi (1808 – 1883) adalah seorang pemimpin nasional yang berasal dari Aljazair. Dialah yang memimpin Aljazair pergerakan perlawanan Prancis di Aljazair.

Syekh Abdul Qadir bin Syekh Muhyiddin Al-Hasani menduduki tingkat tertinggi di antara ulama di Maghrib. Dia adalah seorang fakih yang cerdas dan berbakat.

Pada tahun kedua dari pendudukan Prancis terhadap negara Aljazair pada 1348 H, para ulama dan umara Aljazair berkumpul di masjid kota Maskar untuk bermusyawarah dan membait Syekh Abdul Qadir untuk menjadi pimpinan jihad membebaskan negeri Aljazair dari penjajah dan menegakkan syariat Islam di negeri itu. Maka dia mendirikan pemerintahan Islam di bawah pimpinannya untuk merealisasikan tujuan ini.

Ketika orang kafir Prancis mengetahui kemunculan Syekh Abdul Qadir dan pemerintahan Islam, mereka sangat khawatir dan ketakutan. Maka mereka menyusun kekuatan militer untuk menggempur para Mujahidin dan pemerintahannya. Tetapi Syekh Abdul Qadir membalas serangan itu dengan cara yang sangat cerdik, hingga menjadikan musuh terkepung di dalam benteng.

Ketika Jenderal De Michael melemah dan tidak bisa keluar dari kepungan yang mengelilingi tentaranya di kota Wahran dan Satghanam, dan tentara mujahidin hampir menguasai kekuatan penjajah di dalam benteng, sehingga pimpinan tentara Prancis melakukan siasat tipu daya. Abdul Qadir mengirimkan utusan kepada Panglima Prancis meminta diadakan perdamaian dengannya. Tetapi dia menginjak-injak surat itu sebagai ancaman dan gertakan dengan kekuatan Prancis yang besar yang dianggap sebagai kekuatan terbesar di dunia.

Abdul Qadir menjawab hinaan panglima tentara Prancis itu dengan jawaban seorang panglima tentara Islam yang Mukmin dan percaya kepada pertolongan Allah, memahami Islam, dan mengetahui hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan jihad dan memerangi orang kafir.

Syekh Abdul Qadir berkata, “Sesungguhnya agama kami melarang untuk meminta perdamaian di awal dan membolehkan kita untuk menerimanya jika ditawarkan kepada kami. Perdamaian yang kalian minta harus dibangun berdasarkan syarat-syarat yang dijunjung tinggi oleh kita dan kalian….”

Syekh itu berpegangan kepada firman Allah, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Anfal: 61).

Kemudian Syekh Abdul Qadir melanjutkan, “Mengapa kalian membanggakan kekuatan Prancis padahal kalian tidak mampu menaklukkan kekuatan Islam. Bukankah beberapa abad yang lalu menunjukkan adanya kekuatan umat Islam dan kemenangan mereka atas musuh-musuh mereka? Walaupun kalian menganggap kami lemah, sesungguhnya kekuatan kami berada di Tangan Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kami tidak menganggap bahwa keberuntungan selalu ada pada kami, tetapi kami tahu bahwa peperangan kadang membawa keberuntungan buat kami dan kadang membawa sial buat kami. Hanya saja kematian adalah rahasia bagi kami dan kami tidak berpegang teguh kecuali kepada Allah semata yang tiada sekutu bagiNya, tidak berjumlah dan tidak dijumlahkan. Sesungguhnya peluru dan ringkikan kuda di medan perang di telinga kami lebih merdu daripada suara angin sepoi-sepoi.”

Kemudian Jenderal De Michael dan panglima-panglimanya berkata, “Jika kamu keluar dari kota Wahran sejauh satu atau dua hari perjalanan, maka akan tampaklah siapa yang berhak untuk menyombongkan diri terhadap kami.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − 4 =