500 Penghafal Al-Quran Gelar Pawai Wisuda di Gaza

 500 Penghafal Al-Quran Gelar Pawai Wisuda di Gaza

Gaza (Mediaislam.id) – Jalanan Kamp Pengungsi Shati yang biasanya berdebu akibat reruntuhan bangunan, Kamis (27/12/2025), mendadak berubah menjadi lautan cahaya dan keberanian. Sebanyak 500 penghafal Al-Quran, pria dan wanita, turun ke jalan dalam sebuah prosesi agung yang menantang bayang-bayang genosida yang telah mendera wilayah itu selama dua tahun terakhir.

Kegembiraan yang Tak Terbungkam

Di bawah slogan “Gaza Berkembang dengan Para Penghafal Al-Quran,” acara yang digagas oleh Komite Darurat bekerja sama dengan Yayasan Ayad Al-Khair dan Yayasan Amal Alia Kuwait ini bukan sekadar seremoni keagamaan. Ini adalah festival rakyat yang mengembalikan urat nadi kehidupan di tempat yang nyaris mati akibat pemboman brutal.

Gema takbir “Allahu Akbar” bersahutan dengan doa-doa yang dipanjatkan warga dari pinggir jalan. Mengenakan pakaian terbaik mereka, para penghafal membawa salinan Al-Quran dan bendera Palestina, mengubah lanskap kehancuran menjadi ruang ketenangan yang magis.

Kisah Ibtisam: Menghafal di Bawah Hujan Bom

Di antara barisan peserta, sosok Ibtisam Abu Huwaidi menarik perhatian. Ia adalah salah satu hafizah yang berhasil menuntaskan hafalan 30 juz tepat di tengah berkecamuknya perang.

“Menyelesaikan hafalan selama dua tahun di bawah bombardir bukanlah tugas mudah. Namun, Al-Quran adalah sumber kekuatan dan keteguhan kami. Ini adalah cara kami memegang teguh harapan,” ungkap Ibtisam kepada Anadolu Agency. Ia bermimpi keempat anaknya mengikuti jejaknya, menjaga api iman tetap menyala meski raga terkepung.

Kebahagiaan serupa terpancar dari wajah Mushira Abu Watfa. Meski harus duduk di kursi roda karena faktor usia dan keterbatasan fisik, matanya berkaca-kaca melihat jalanan kamp dipenuhi penghafal Al-Quran. “Kemiskinan dan pengepungan tidak akan pernah menghalangi kami mengirimkan anak-anak untuk menjaga kalam Allah,” tegasnya penuh bangga.

Ironi Gencatan Senjata dan Kejahatan terhadap Rumah Ibadah

Acara ini menjadi antitesis dari upaya sistematis Israel dalam menghapus identitas budaya Gaza. Berdasarkan data Kantor Media Pemerintah, selama dua tahun agresi, Israel telah menghancurkan secara total 835 masjid dan merusak 180 masjid lainnya.

Ironisnya, meski perjanjian gencatan senjata telah diteken pada 10 Oktober lalu, Israel tercatat telah melakukan 875 pelanggaran baru. Pelanggaran tersebut telah merenggut nyawa 411 warga Palestina dan melukai 1.112 lainnya di tengah masa “damai” yang rapuh.

Dunia Mengecam, Gaza Bertahan

Agresi yang didukung oleh persenjataan Amerika Serikat ini telah meninggalkan luka yang sangat dalam: 71.000 warga gugur dan lebih dari 171.000 luka-luka. Sekitar 90% infrastruktur sipil Gaza kini rata dengan tanah.

Namun, pawai di Kamp Shati mengirimkan pesan tegas kepada dunia: meskipun bangunan mereka hancur, identitas dan spiritualitas bangsa Palestina tidak akan pernah bisa diratakan. Sertifikat penghargaan yang dibagikan hari itu bukan sekadar pengakuan atas hafalan, melainkan simbol kemenangan moral sebuah bangsa atas mesin perang yang paling mutakhir sekalipun.

sumber: infopalestina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + 11 =