Universitas Islam Gaza Buka Kembali Aktivitas Pendidikan

 Universitas Islam Gaza Buka Kembali Aktivitas Pendidikan

Sebuah kelas di Universitas Islam Gaza penuh dnegan mahasiswa yang memulai belajar kembali, 7/12/2025. [foto: Xinhua]

Sementara itu, Ahmed al-Jadba memilih keperawatan karena alasan lain. Pemandangan para perawat yang berlari menuju korban selama perang mengubah hidupnya. “Ini jurusan yang penuh belas kasih,” katanya.

Ahmed sempat membayangkan kampus seperti yang ia lihat di internet: megah, rapi, penuh area hijau. Semua bayangan itu runtuh begitu ia melewati gerbang. Namun kesan muram itu memudar ketika ia duduk di ruang kelas baru dan mendengarkan dosennya mengajar, sebuah momen yang terasa seperti menghidupkan kembali mimpi yang sempat membeku.

Mahasiswa lain, Bara’ al-Ussaily dari fakultas teknik, keluar dari kelas dengan penuh antusias. “Aku sudah menginjakkan kaki di ambang cita-citaku. Aku ingin menjadi insinyur besar,” katanya. Namun ia juga menghadapi tantangan: biaya cetak materi yang tinggi, serta minimnya listrik dan internet yang memaksanya berjalan jauh hanya untuk mengisi daya laptop atau mencari koneksi.

Melawan Kehancuran

Di sebuah ruangan kecil, Rektor Universitas Islam Gaza, Dr. As‘ad As‘ad, menjelaskan bahwa membuka kembali perkuliahan sebulan lalu terasa seperti mimpi yang jauh. Tapi kampus memilih melawan kehancuran dan menjadi yang pertama membuka kembali pintunya bagi mahasiswa.

Sebagian bangunan yang dinamai “Palestina” dan “Irada” direstorasi, menyisakan lima ruang kelas aktif bagi mahasiswa kedokteran, teknik, keperawatan, teknologi informasi, kesehatan masyarakat, pendidikan, serta syariah dan hukum.

Saat ini, 3.500 mahasiswa mengikuti perkuliahan tatap muka, sementara 12–13 ribu lainnya belajar secara daring. Namun perluasan perkuliahan tatap muka masih terhambat karena beberapa gedung tetap dipenuhi pengungsi.

Transportasi juga menjadi persoalan serius: jarang, mahal, dan tidak selalu aman. Untuk itu, universitas membuka dua pusat pembelajaran baru di Gaza tengah dan selatan untuk mengurangi beban perjalanan mahasiswa.

Perang merenggut sekitar 70 pegawai kampus (30 di antaranya dosen) dan menghancurkan 13 bangunan beserta seluruh infrastruktur pendukungnya. Kekurangan tenaga pengajar ditutup dengan para relawan dari Gaza dan luar negeri, termasuk dosen-dosen senior yang kembali mengajar secara sukarela.

“Perang merusak wujud universitas,” kata rektor, “tetapi tidak pernah mampu meruntuhkan tekad para mahasiswa yang berjalan berjam-jam hanya untuk kembali duduk di bangku kuliah.”

Sebelum perang, Universitas Islam Gaza memiliki lebih dari 17.500 mahasiswa dalam 86 program sarjana, 43 program magister, 10 program doktor, dan 5 program diploma, tersebar di 11 fakultas ilmiah dan humaniora.[]

Sumber: Al Jazeera/Xinhua

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − six =