Tiga Syarat Mengundang Pertolongan Allah
Bogor (Mediaislam.id) – Pembina Masjid Ibn Khaldun Bogor, Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin, MS, menyampaikan bahwa pertolongan Allah merupakan keniscayaan bagi orang-orang yang beriman. Namun, menurutnya, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar pertolongan tersebut benar-benar hadir dalam kehidupan umat.
Hal itu disampaikan Kiai Didin dalam tausiyah singkat usai pelaksanaan salat tahajud dalam rangkaian iktikaf malam kedua di sepuluh hari terakhir Ramadan di Masjid Ibn Khaldun Bogor, pada Kamis dini hari (12/3/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mengulas kandungan Surat Al-Hajj ayat 41, yang menjelaskan golongan orang-orang yang akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.
Menurutnya, pertolongan Allah sangat penting sebagai solusi untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan, baik pada tingkat pribadi, keluarga, institusi, maupun dalam kehidupan umat dan bangsa.
“Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Pertolongan Allah itu merupakan keniscayaan bagi orang yang beriman,” ujar Kiai Didin di hadapan jamaah i’tikaf.
Ia menjelaskan bahwa dalam Surat Al-Hajj ayat 41 terdapat tiga syarat utama yang dapat mengundang pertolongan Allah.
Pertama, menegakkan salat berjamaah. Kiai Didin menekankan bahwa salat berjamaah harus dijadikan sebagai kebutuhan utama dalam kehidupan seorang Muslim, bukan sekadar kewajiban yang dilakukan.
“Salat berjamaah harus menjadi kebutuhan kita, karena dari sinilah kekuatan spiritual umat dibangun,” katanya.
Kedua, menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai upaya memperkuat dan memajukan ekonomi umat. Menurutnya, kepedulian sosial dan penguatan ekonomi umat merupakan bagian penting dari ajaran Islam.
“Dengan zakat, infak, dan sedekah, kita ikut memajukan ekonomi umat dan membantu saudara-saudara yang membutuhkan,” ujarnya.
Ketiga, melaksanakan amar makruf nahi munkar, yakni mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik melalui dakwah lisan, tulisan, maupun melalui peran dan jabatan yang dimiliki.
“Setiap Muslim harus terlibat dalam kegiatan dakwah, sesuai dengan kemampuan dan perannya masing-masing,” jelasnya.
Di akhir tausiyahnya, Kiai Didin berharap momentum sepuluh hari terakhir Ramadan dapat dimanfaatkan umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat komitmen menjalankan ajaran Islam.
“Mudah-mudahan di momen sepuluh hari terakhir Ramadan ini Allah memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua, terlebih saat ini umat Islam sedang menghadapi berbagai tantangan yang berat,” pungkasnya. []
