Soal BoP, Habib Rizieq Ingatkan Pemerintah RI Jangan Percaya Amerika
Habib Muhammad Rizieq Syihab
Jakarta (Mediaislam.id) – Habib Rizieq Syihab mengingatkan pemerintah Indonesia agar tidak percaya kepada Amerika Serikat (AS) terkait pembentukan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang digagas Presiden AS Donald Trump. Dewan tersebut diklaim bertujuan menciptakan perdamaian Palestina dan membangun kembali Gaza, namun dinilai menyimpan banyak persoalan serius.
Dalam pernyataannya di Jakarta, Habib Rizieq mengungkapkan bahwa Indonesia disebut-sebut telah diajak bergabung dalam Dewan Perdamaian tersebut dengan kewajiban kontribusi dana sebesar Rp16,7 triliun. Menurutnya, ajakan itu dibungkus dengan narasi kemanusiaan untuk membantu rakyat Palestina dan membangun kembali Gaza menjadi kota yang layak huni.
“Indonesia tertarik karena niatnya baik, ingin membantu Palestina. Tapi persoalannya, apakah kita masih percaya kepada Amerika dan Donald Trump untuk menciptakan perdamaian di Gaza?” ujar Habib Rizieq dikutip pada Jumat (6/2) melalui video kajian di Markaz Syariah Bogor.
Ia menegaskan bahwa sejarah menunjukkan Amerika Serikat beserta sekutunya justru berperan besar dalam penderitaan rakyat Palestina sejak dekade 1940-an. Menurutnya, negara-negara Barat selama ini mendukung Israel dengan persenjataan dan perlindungan politik, yang berujung pada kekerasan dan genosida terhadap bangsa Palestina.
“Apa kita masih percaya sama Amerika? Mereka katanya mau ciptakan perdamaian di Gaza? Bagaimana kita bisa percaya? Justru selama ini, bahkan sejak tahun 1940-an, Amerika, Inggris, Prancis justru mereka yang merusak Palestina, mereka yang mendukung Israel membantai warga Palestina, mereka yang kasih Israel senjata-senjata mematikan, rudal, roket, bom. Amerika mendukung Israel melakukan genosida terhadap bangsa Palestina,” jelas Habib Rizieq.
“Trump ini terlibat, dia yang menghancurkan Palestina. Dan sekarang kita dibohongin untuk membangun Gaza yang sudah dia hancurkan, dan kita yang disuruh patungan. Makanya pertanyaan saya apa masih percaya dengan presiden gila semacam ini? Trump ini presiden gila, kok masih percaya?” tanyanya.
Habib Rizieq juga mempertanyakan kredibilitas Trump dalam menjaga perdamaian dunia. Ia menyinggung berbagai kebijakan dan tindakan agresif Trump terhadap negara lain, termasuk tuduhan intervensi militer dan ancaman terhadap kedaulatan negara-negara seperti Venezuela, Kolombia, Denmark (Greenland), hingga Kanada.
“Dunia sudah tahu bagaimana sikap Trump. PBB protes, dunia protes, dia tidak peduli. Presiden seperti ini apakah bisa dipercaya membawa perdamaian?” ujarnya.
Terkait Gaza, Habib Rizieq menilai ada agenda tersembunyi di balik rencana pembangunan ulang wilayah tersebut. Ia mengutip pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menolak bantuan Rusia untuk Gaza dan justru mengusulkan agar rakyat Palestina dipindahkan keluar dari wilayahnya.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran atas wacana pemindahan sementara warga Gaza ke Indonesia, termasuk ke Pulau Galang, yang disebut-sebut pernah menjadi tempat penampungan pengungsi Vietnam.
“Kalau rakyat Palestina dipindahkan ke Indonesia, lalu Israel membangun Gaza, apakah mereka akan diizinkan kembali? Faktanya, sekarang saja mereka diusir dan dibunuh. Ini sangat berbahaya, bisa-bisa Palestina hilang dari tanahnya sendiri,” tegasnya.
Selain itu, Habib Rizieq mempertanyakan sumber dana kontribusi Rp16,7 triliun yang harus dibayarkan Indonesia jika bergabung dalam Dewan Perdamaian tersebut. Ia menegaskan bahwa penggunaan dana sebesar itu harus mendapat persetujuan DPR.
“Masih banyak bencana di dalam negeri yang butuh triliunan rupiah. Aceh belum selesai, bencana di Jawa dan Kalimantan terus terjadi. Lalu kita mau sumbang Rp16,7 triliun untuk sesuatu yang tidak jelas?” katanya.
Di akhir pernyataannya, Habib Rizieq meminta pemerintah dan masyarakat Indonesia agar bersikap waspada dan tidak mudah percaya terhadap janji-janji Amerika Serikat, Israel, maupun pihak-pihak yang dinilainya memiliki rekam jejak merugikan Palestina.
“Jangan percaya Trump, jangan percaya Amerika Serikat, jangan percaya Israel. Kita harus hati-hati demi Palestina dan demi kepentingan bangsa Indonesia,” pungkasnya. []
