Ribuan Pasien di Gaza Terjebak tanpa Akses Pengobatan ke LN

 Ribuan Pasien di Gaza Terjebak tanpa Akses Pengobatan ke LN

Nour Mohammed Abu Madi (34) [foto: Xinhua]

Dokter memberitahu al-Mabhouh bahwa dia membutuhkan operasi untuk memasang anggota tubuh buatan dan terapi fisik jangka panjang untuk memulihkan gerakan, tetapi semua rujukan medis telah dibekukan karena penutupan perbatasan. “Saya telah beberapa kali mengajukan berkas untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri, tetapi tidak ada yang merespons. Setiap hari yang berlalu, harapan saya semakin pudar.”

Kasus Abu Madi dan al-Mabhouh mencerminkan krisis kemanusiaan yang semakin parah. Lebih dari 18.500 pasien dan orang terluka membutuhkan perawatan medis di luar negeri, namun hanya 680 orang yang berhasil meninggalkan Jalur Gaza sejak awal tahun ini, menurut Monir al-Borsh, direktur jenderal otoritas kesehatan Gaza.

“Permohonan evakuasi medis sering ditunda atau ditolak meskipun semua prosedur internasional telah diselesaikan. Ribuan nyawa dapat diselamatkan jika pasien diizinkan keluar, namun banyak yang meninggal saat menunggu,” kata al-Borsh kepada Xinhua.

Al-Borsh memperingatkan bahwa sistem kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran total, karena kekurangan bahan bakar memaksa mesin X-ray dan generator rumah sakit berhenti beroperasi, sementara tim medis bekerja “di bawah tekanan ekstrem selama berjam-jam, sering kali tanpa istirahat atau pasokan yang memadai.

Proses evakuasi medis untuk pasien Gaza dikoordinasikan melalui mekanisme internasional yang diawasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga mitra, yang mengatur pemindahan ke rumah sakit di Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Qatar, Turkiye, dan beberapa negara Uni Eropa, menurut WHO.

Namun, evakuasi medis ini, yang dulu menjadi penyelamat jiwa bagi ribuan kasus kritis, menurun drastis dalam setahun terakhir, terutama sejak Mei, akibat penutupan perbatasan Rafah yang terus berlangsung, kata WHO dalam pernyataan pers yang diterbitkan pada akhir September.

WHO menekankan bahwa gencatan senjata dan jaminan akses yang aman sangat penting untuk memastikan operasi evakuasi terus berjalan dan banyak nyawa dapat diselamatkan, seraya mendesak anggota untuk memperluas koridor kemanusiaan melalui Mesir dan Yordania serta memulihkan rute pemindahan medis ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

“Setiap hari kami melihat puluhan kasus seperti Nour dan Hanin,” tambah al-Borsh. “Beberapa di antaranya bisa diselamatkan jika ditangani tepat waktu, tetapi perbatasan dan waktu yang menentukan nasib mereka.”[]

Sumber: Xinhua

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

sixteen + 6 =