Puasa dan Dekontruksi Standar Kemuliaan Dunia

 Puasa dan Dekontruksi Standar Kemuliaan Dunia

Ilustrasi

Syariat puasa atau shoum yang diwajibkan Allah kepada orang beriman memiliki tujuan yang istimewa dan luar biasa, ada banyak tujuan dan hikmah yang ingin dicapai melalui puasa, akan tetapi diantara tujuan tujuan itu, ada tujuan besar yang ingin diraih nya, yakni menjadi manusia taqwa, sebagai mana yang tertulis dalam ayat puasa surat al-baqoroh ayat 183.

Kenapa taqwa menjadi tujuan terbesar puasa? Karna taqwa itulah indikator kemuliaan, indikator kehormatan dan indikator kesuksesan dan kebahagiaan abadi dunia dan akherat. Allah SWT berfirman ;

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya secara umum: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.” (Qs al-hujurat :13)

Pada potongan surat al-Hujurat ayat 13 diatas, sebelum kata Taqwa sebagai indikator manusia paling mulia, ada huruf إن yang bermakna “Sesungguhnya” Dimana huruf ini sebagai bentuk huruf taukid (penguatan dan penegasan) yang dalam ilmu balaghoh mengandung makna penting, membantah standar sosial yang salah
Dan menegaskan prinsip universal.

Dan kata mulia diungkapkan dalam bentuk isim tafdhil (sperlatif) أكرم yang bermakna paling mulia, dari akar kata كرم. Kemulian itu bukan lagi hanya disisi manusia, akan tetapi disisi Allah SWT عند الله، Bahkan kalimat, إن أكرمكم عند الله أتقاكم

Itu adalah klimat Qoshor (singkat) yang berfungsi pembatasan makna, hanya dengan Taqwa manusia bisa mulia bukan karna ras, warna kulit, kekayaan, jabatan, status sosial atau yang lainya. Dan ini sebagai bentuk kebalikan nya dari konsep mulai nya manusia berdasarkan tradisi jahiliyah.

Dalam perjalanan sejarah manusia, ukuran kemuliaan hampir selalu ditentukan oleh hal-hal yang tampak di permukaan: kekayaan, kekuasaan, keturunan, popularitas, atau kedudukan sosial. Masyarakat sering membangun hierarki berdasarkan apa yang dimiliki seseorang, bukan berdasarkan siapa dia secara moral. Dalam struktur seperti ini, kemuliaan menjadi sesuatu yang eksternal—diukur dari simbol, status, dan pengakuan manusia lain.

Namun Al-Qur’an menghadirkan sebuah gagasan yang sangat radikal melalui konsep taqwa. Dalam ayat:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

kemuliaan manusia tidak lagi ditentukan oleh standar duniawi, melainkan oleh kedalaman kesadaran spiritual dan kualitas moral seseorang. Di sinilah taqwa berfungsi sebagai dekonstruksi terhadap standar kemuliaan dunia.

Secara filosofis, dekonstruksi berarti membongkar struktur nilai yang selama ini dianggap mapan. Taqwa membongkar asumsi lama bahwa kemuliaan berasal dari kekuatan sosial atau material. Al-Qur’an menggeser pusat nilai manusia dari “apa yang dimiliki” menuju “bagaimana seseorang hidup secara moral di hadapan Tuhan.”

Dalam perspektif ini, taqwa bukan sekadar rasa takut kepada Tuhan. Taqwa adalah kesadaran eksistensial bahwa setiap tindakan manusia berada dalam horizon pengawasan Ilahi. Kesadaran ini melahirkan sikap hati-hati dalam bertindak, kejujuran dalam niat, dan tanggung jawab moral terhadap sesama.

Dengan demikian, seseorang yang sederhana secara ekonomi tetapi memiliki integritas moral yang tinggi dapat lebih mulia daripada orang yang memiliki kekuasaan besar namun kehilangan kesadaran etis. Di sinilah terjadi pembalikan nilai: kemuliaan tidak lagi vertikal secara sosial, tetapi vertikal secara spiritual.

Secara sosial, konsep ini juga menghancurkan fondasi diskriminasi. Jika ukuran kemuliaan adalah taqwa, maka tidak ada ras, bangsa, atau kelas sosial yang secara otomatis lebih tinggi dari yang lain. Semua manusia berada pada titik awal yang sama; yang membedakan hanyalah kualitas kesadaran dan moralitas mereka.

Dalam dimensi batin, taqwa juga mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bersifat internal dan transenden. Ia tidak bergantung pada pujian manusia, karena penilaian tertinggi berada pada “عند الله”—di sisi Allah. Artinya, nilai manusia tidak ditentukan oleh opini sosial yang berubah-ubah, melainkan oleh ukuran Ilahi yang lebih dalam dan abadi.

Maka, taqwa bukan sekadar konsep religius, tetapi juga sebuah revolusi moral. Ia mengubah cara manusia memandang dirinya dan orang lain. Ia menempatkan kemuliaan pada ranah kesadaran, integritas, dan kedekatan spiritual, bukan pada simbol-simbol kekuasaan dunia.

Dengan perspektif ini, manusia diajak untuk tidak lagi berlomba-lomba dalam hal yang fana, tetapi dalam kualitas moral yang membentuk kemanusiaannya. Sebab pada akhirnya, yang menjadikan seseorang benar-benar mulia bukanlah apa yang terlihat oleh mata manusia, melainkan kedalaman hati yang diketahui oleh Tuhan Allah Subhanahu wata’aala.

Semoga Puasa kita pada ramadhan tahun ini adalah puasa yang benar-benar dapat menjadikan kita sebagai manusia yang bertaqwa, mulia dan selamat didunia dan akherat. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin

Syukron Makmun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 3 =