Puasa dalam Kehidupan Modern
Oleh:
Dr. KH Zakky Mubarak, MA
Sesungguhnya ibadah puasa yang diwajibkan bagi generasi masa kini dalam kehidupan modern hanyalah puasa Ramadan. Selain itu hanyalah puasa sunah yang dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk melengkapi kegiatan ibadah dan amal saleh. Ramadan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an yang menjadi pedoman dan petunjuk abadi bagi umat manusia.
Dalam bulan itu, dakwah Islamiyah ditingkatkan dengan sungguh-sungguh. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pelaksanaan puasa dalam bulan ini merupakan suatu ibadah dan pengabdian, sekaligus kenangan yang sangat berkesan yang hidup dalam diri setiap Muslim.
Bulan suci itu penuh dengan kebaikan dan keutamaan. Karena itu, setiap orang yang memahami keberadaannya pasti akan mengisi bulan tersebut dengan ibadah dan muamalah yang terpuji. Bila seseorang memahami apa yang ada dan terjadi dalam bulan Ramadan, niscaya ia akan menghendaki agar seluruh tahun dijadikan seperti bulan Ramadan.
Ditetapkannya bulan Ramadan sebagai bulan puasa mengandung hikmah yang sangat besar, karena bulan itu ditetapkan berdasarkan kalender Komariyah, yaitu kalender yang menggunakan peredaran bulan. Hikmah yang terkandung di dalamnya antara lain sebagai berikut.
Pertama, tahun Komariyah amat kaya dengan fenomena alam serta mengandung berbagai faktor kejelasan sehingga kecil kemungkinan terjadi penyelewengan atau pemalsuan.
Kedua, perhitungan tanggal dalam peredaran bulan sangat jelas bagi semua orang, baik mereka yang terpelajar maupun yang awam. Setiap orang dapat mengetahui tanggal dengan melihat bentuk bulan. Tanggal dua, tiga, empat, dan seterusnya dapat diketahui dengan jelas. Hal ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan kalender yang berdasarkan peredaran matahari.
Ketiga, dengan menggunakan kalender Komariyah, pelaksanaan puasa Ramadan akan dialami oleh umat Islam dalam berbagai musim. Dalam berbagai musim itu umat Islam melaksanakan puasa, seperti pada musim panas, musim sejuk, musim dingin, atau musim-musim lainnya. Dengan demikian, ibadah itu akan dijalani dalam berbagai pengalaman sesuai dengan perbedaan situasi dan kondisi.
Memperhatikan kenyataan ini, wajarlah apabila Rasulullah saw. memerintahkan untuk memulai puasa Ramadan atau mengakhirinya dengan melihat bulan. Beliau bersabda:
“Berpuasalah kamu karena melihat bulan (awal Ramadan) dan berhari rayalah karena melihatnya (awal bulan Syawal). Jika awan menghalangi pandanganmu sehingga kamu tidak dapat melihat bulan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban.” (Hadis sahih, riwayat al-Bukhari: 1776).
Hadis ini mengisyaratkan bahwa pelaksanaan ibadah puasa dalam ajaran Islam dengan menggunakan tahun Komariyah dirasakan lebih mudah dan dapat dilaksanakan bahkan oleh orang yang sangat awam.
Perhitungan tahun Komariyah setiap tahun berbeda sekitar sebelas hari dibandingkan dengan tahun Syamsiyah (perhitungan berdasarkan peredaran matahari). Dengan demikian, bulan Ramadan setiap tahun akan maju sekitar sebelas hari dibandingkan dengan tahun Syamsiyah.
Dalam waktu sekitar 36 tahun, seorang Muslim akan merasakan puasa dalam berbagai masa dan musim: berpuasa pada hari-hari pendek, hari-hari panjang, pada musim panas, musim dingin, dan musim-musim lainnya. Kenyataan ini akan menambah ketahanan mental dan fisik bagi mereka yang berpuasa serta memperkaya pengalaman rohani dalam kehidupan sehari-hari.*
