Perkuat Kemandirian Pesantren, PBNU Resmikan 41 SPPG se-Indonesia
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf meresmikan 41 SPPG se-Indonesia yang dipusatkan di Lombok, Sabtu (21/02).
Jakarta (Mediaislam.id) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf meresmikan 41 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis dikelola yayasan pondok pesantren di bawah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia itu.
Peresmian 41 SPPG untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam naungan PBNU ini dipusatkan di Pondok Pesantren Darul Qur’an Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu sore (21/02).
“Program ini hadir untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia pesantren agar lahir generasi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (22/02).
Peresmian SPPG di Lombok tersebut menandai langkah keempat dalam rangkaian peluncuran SPPG oleh TKA-PBNU. Sebelumnya telah dilaksanakan di Cirebon, Jember, dan Batang.
Gus Yahya mengungkapkan kerja sama dengan BGN telah dimulai sejak peringatan Harlah ke-102 NU pada awal Februari lalu.
Target untuk membangun 1.000 titik SPPG di seluruh Indonesia bukan sekadar kesepakatan lembaga, melainkan bentuk komitmen nyata dalam mendukung program strategis Presiden.
“Data menunjukkan banyak santri kita yang kenyang secara kuantitas namun masih mengalami masalah kesehatan seperti anemia karena gizi yang tidak seimbang,” ujar Gus Yahya.
Ketua Tanfidziyah PWNU NTB TGH. Masnun Tahir menyampaikan kehadiran program ini di Pondok Pesantren Darul Quran Bengkel merupakan keberlanjutan dari marwah perjuangan Datuk Bengkel, Rais Syuriah pertama PWNU NTB.
Ia menegaskan sinergi dengan pemerintah adalah komitmen tak terpisahkan dari NU. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini dipandang sebagai bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang selaras dengan visi besar PBNU.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyoroti dampak ekonomi mikro yang tercipta dari kehadiran dapur-dapur di pesantren tersebut.
Menurut dia, model ini membalik paradigma pembangunan dari hilir ke hulu. Penyerapan bahan pangan dari petani, peternak, dan UMKM lokal secara langsung memberikan jaminan pasar yang stabil.
“Pesantren akan menjadi basis baru kekuatan ekonomi umat. Dimulai dari SPPG, kita berharap ini merambah ke kemandirian peternakan dan pertanian di lingkungan pesantren. Jika ini terjadi, kekuatan ekonomi rakyat akan tercipta secara masif,” kata Gubernur Iqbal.
