Penutupan Sanlat Ramadan Birrul Waalidain Bogor Diikuti Puluhan Tunanetra

 Penutupan Sanlat Ramadan Birrul Waalidain Bogor Diikuti Puluhan Tunanetra

Bogor (Mediaislam.id) — Yayasan Pendidikan Birrul Waalidain Bogor menutup kegiatan pesantren kilat (sanlat) Ramadan yang diikuti lebih dari 600 siswa tingkat TK, SD, hingga SMP. Acara penutupan berlangsung di Gedung Birrul Waalidain, Bogor, Jumat (13/3/2026), dengan rangkaian kegiatan tausiyah, pentas seni santri, serta penyaluran santunan.

Ketua Yayasan Birrul Waalidain, Ustaz Memed Jalaludin, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan sanlat yang berlangsung selama lima hari tersebut.

“Alhamdulillah, sanlat Ramadan tahun ini diikuti lebih dari 600 peserta dari Birrul Waalidain 1 dan 2. Kegiatan berlangsung selama lima hari dan ditutup dengan pentas seni para santri,” ujar Memed dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa pihak yayasan juga menjalin kerja sama dengan komunitas penyandang disabilitas netra melalui Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni).

“Sudah bertahun-tahun Birrul Waalidain bekerja sama dengan saudara-saudara kita dari komunitas Tunanetra. Mudah-mudahan mereka menjadi sebab kita semua mendapatkan keberkahan, bahkan menjadi jalan menuju surga, karena mereka adalah orang-orang yang telah teruji kehidupannya di dunia,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, yayasan juga menyalurkan berbagai santunan, di antaranya kepada siswa yatim yang bersekolah di Birrul Waalidain serta anak yatim di lingkungan sekitar sekolah. Selain itu, disalurkan pula zakat maal dan zakat fitrah kepada 40 penyandang Tunanetra.

Memed juga menyampaikan apresiasi kepada para pengajar yang telah membimbing santri selama kegiatan sanlat, termasuk para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor yang mengabdikan diri di Birrul Waalidain.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para alumni Gontor yang telah mengabdi dan membimbing para santri selama kegiatan sanlat. Ini adalah pintu gerbang untuk mengabdi kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu pembimbing sanlat, Ustaz Asep, alumni Gontor, mengatakan bahwa kegiatan sanlat tidak hanya menjadi sarana belajar agama, tetapi juga membangun kebersamaan di antara para santri.

“Tidak terasa lima hari berlalu sejak Senin hingga Jumat. Kita sudah terikat menjadi satu keluarga dalam iman, dan insyaallah menjadi keluarga juga di surga,” kata Asep.

Ia berharap ilmu yang diperoleh para santri selama sanlat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengutip pesan Ali bin Abi Thalib tentang perjalanan seseorang dalam menuntut ilmu.

Menurutnya, ada tiga fase yang biasanya dialami seseorang. Fase pertama adalah merasa sudah mengetahui banyak hal. Fase kedua adalah menyadari bahwa semua ilmu sejatinya berasal dari Allah. Sedangkan fase ketiga adalah merasa tidak memiliki apa-apa, sebagaimana falsafah padi yang semakin berisi semakin merunduk.

“Mudah-mudahan pelajaran selama lima hari ini bisa menambah ilmu, kebaikan, dan keberkahan bagi para santri,” ujarnya.

Sementara itu, puncak penutupan sanlat ramadan itu diisi dengan ceramah oleh Dr KH Badruddin Subhki. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan bahwa kehadiran komunitas Tunanetra dalam acara tersebut menjadi inspirasi bagi semua pihak.

“Kita bersyukur dan termotivasi dengan kehadiran saudara-saudara kita dari komunitas Tunanetra. Mereka mungkin tidak melihat dengan mata, tetapi tidak buta mata hatinya,” katanya.

Menurutnya, yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang dapat melihat secara fisik tetapi hatinya tertutup dari kebenaran agama.

Ia juga mengingatkan pentingnya kedekatan dengan Al-Qur’an. “Jauh lebih hebat orang yang tidak melihat tetapi selalu mengingat Al-Qur’an, daripada orang yang bisa melihat tetapi jauh dari Al-Qur’an,” ujarnya.

Kiai Badruddin juga menjelaskan empat dimensi penting dalam ibadah puasa sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat puasa dalam Surah Al-Baqarah.

Pertama adalah dimensi spiritual, yaitu puasa yang bertujuan menjadikan manusia bertakwa kepada Allah SWT.

Kedua adalah dimensi ideal, yaitu adanya kemudahan dalam berpuasa bagi mereka yang memiliki uzur seperti sakit atau sedang dalam perjalanan, meskipun tetap dianjurkan berpuasa jika mampu.

Ketiga adalah dimensi ketangguhan, yakni kemampuan menghadapi berbagai ujian kehidupan yang pada akhirnya akan meninggikan derajat seseorang di hadapan Allah.

Keempat adalah dimensi sosial, yaitu menyempurnakan ibadah puasa dengan kepedulian terhadap sesama melalui kegiatan sosial seperti santunan kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam acara tersebut juga disampaikan pesan solidaritas untuk Palestina. Para peserta diajak untuk terus mendoakan dan mendukung masyarakat Gaza yang hingga kini masih menghadapi serangan dari penjajah Zionis Israel.

Kiai Badruddin menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Birrul Waalidain yang secara konsisten menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk Palestina melalui berbagai kegiatan solidaritas yang digelar di lingkungan sekolah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =