Meraih Kesuksesan dengan Percaya Diri
Oleh:
Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A.
SETIAP orang pada dasarnya selalu mendambakan kesuksesan dalam segala aspek kehidupannya, baik lahir maupun batin. Dalam pandangan ajaran Islam, meraih kesuksesan harus diawali dengan sikap percaya diri dan bertawakkal kepada Allah Swt. Setiap muslim tidak menganggap tawakkal hanya sebagai keharusan semata, melainkan juga merupakan kewajiban agama yang mengakar pada akidah Islam.
Dalam Al-Qur’an diperintahkan agar bertawakkal kepada Allah apabila ingin memiliki iman yang tinggi. “…Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. al-Māidah [5]: 23). Setiap pribadi muslim harus mengarahkan sikap tawakkalnya hanya kepada Allah semata, bukan kepada yang lain. Dalam tawakkal itulah terdapat sikap percaya diri yang teguh untuk meraih segala sesuatu yang diharapkan.
Sikap tawakkal sering disalahpahami oleh sebagian umat Islam, yaitu dengan berserah diri kepada Allah tanpa disertai usaha yang sungguh-sungguh. Padahal, penyerahan diri kepada Allah harus dilakukan setelah berusaha secara maksimal, baik melalui aktivitas lahiriah maupun batiniah. Aktivitas lahiriah berupa bekerja dengan tekun, sedangkan aktivitas batiniah berupa permohonan dan doa yang tulus kepada Allah Swt.
Setiap muslim yang memahami ajaran agamanya tidak akan berobsesi untuk meraih sesuatu tanpa melakukan upaya dan usaha. Selanjutnya, ia akan memperhatikan faktor-faktor penyebab untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Tawakkal yang sesungguhnya berupa amal, aktivitas, dan harapan yang disertai dengan ketenteraman hati dan ketenangan jiwa. Ia meyakini sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah Swt. pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.
Allah Swt. tidak mengabaikan dan menyia-nyiakan setiap manusia yang berbuat kebajikan. Seorang muslim meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini mengikuti sunnatullah. Berdasarkan hal itulah, ia harus mengikutinya. Dengan demikian, keinginan untuk meraih sesuatu harus diarahkan agar mengikuti dan memenuhi persyaratan sebagaimana mestinya. Semua itu berjalan berdasarkan hukum sebab dan akibat.
Seorang muslim memahami bahwa faktor penyebab bukan merupakan jaminan mutlak bagi kesuksesan yang didambakannya. Sesungguhnya, faktor penyebab tersebut merupakan aktivitas yang diperintahkan oleh Allah Swt. untuk diikuti dan dijalani. Oleh karena itu, setelah berusaha secara maksimal dan bersungguh-sungguh, ia memasrahkannya kepada takdir Allah Swt. Sesungguhnya, segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi, dan segala yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan terjadi.
Betapa banyak orang yang menanam berbagai macam tanaman, tetapi tidak memanen hasilnya, padahal berbagai upaya dan usaha telah ditempuh. Memperhatikan kenyataan ini, apabila seorang muslim telah berusaha secara maksimal dan mengupayakan suatu keinginan dengan sungguh-sungguh, kemudian belum berhasil, maka ia tidak boleh berputus asa. Sebaliknya, ia harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk meraih apa yang dicita-citakannya pada masa yang akan datang.
Rasulullah saw. dalam berbagai usahanya tidak pernah melalaikan faktor-faktor penyebab yang harus dipenuhi agar cita-citanya tercapai. Dalam peperangan, misalnya, beliau tidak pernah melakukannya sebelum mempersiapkan segala sarana pendukung untuk mencapai kemenangan. Beliau mempersiapkan pasukan yang tangguh, alat-alat perang, perbekalan, memilih tempat yang strategis, serta menentukan waktu yang tepat. Beliau tidak melakukan penyerangan pada saat terik matahari, melainkan menunggu kondisi yang lebih sejuk.
Setelah mempersiapkan segala sesuatu dengan sempurna, beliau bergerak memerangi musuh sambil berdoa:
اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، وَمُجْرِيَ السَّحَابِ، وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ
“Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, yang menggerakkan awan, dan yang menghancurkan golongan-golongan (musuh), kalahkanlah mereka dan berikanlah pertolongan kepada kami atas mereka.” (HR. Bukhari, no. 2965).
Ketika Rasulullah saw. akan berhijrah, beliau mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh, antara lain: (1) menjadikan Abu Bakar al-Shiddiq sebagai teman perjalanan, (2) menyiapkan perbekalan makanan dan minuman, (3) menyiapkan unta terbaik karena perjalanan yang jauh dan berat, serta (4) menyertakan seorang penunjuk jalan yang mengenal betul seluk-beluk perjalanan menuju Madinah.
Saat rumah beliau dikepung oleh musuh, Rasulullah saw. menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya guna mengelabui musuh. Ketika beliau berangkat dan dikejar oleh mereka, beliau bersembunyi di Gua Tsur. Selanjutnya, beliau terus memperhatikan persiapan untuk melanjutkan perjalanan ke Madinah. Akhirnya, beliau selamat memasuki kota yang menjadi pusat dakwah Islam tersebut. Di Madinah, beliau disambut dengan rasa haru dan bahagia. Dari sanalah kemudian dakwah Islam disebarkan ke berbagai penjuru dunia.*
