Menghidupkan Kembali Esensi Musyawarah

 Menghidupkan Kembali Esensi Musyawarah

Ilustrasi

Kasus Ketiga: Kebijakan Luar Negeri dan Board of Peace

Dalam bidang kebijakan luar negeri, keputusan strategis negara juga memerlukan proses deliberasi yang matang.

Keputusan Indonesia untuk terlibat dalam berbagai forum internasional atau inisiatif perdamaian global—seperti keterlibatan dalam forum yang sering disebut sebagai Board of Peace—memiliki implikasi diplomatik yang luas.

Langkah-langkah semacam ini menyangkut posisi strategis Indonesia dalam tatanan geopolitik dunia.
Karena itu keputusan tersebut idealnya dipertimbangkan melalui musyawarah yang melibatkan berbagai pihak, seperti:
• diplomat senior
• akademisi hubungan internasional
• pakar keamanan global
• analis geopolitik

Dengan musyawarah yang matang, negara dapat memastikan bahwa langkah diplomatik yang diambil benar-benar sejalan dengan kepentingan jangka panjang bangsa.

Ketika Musyawarah Menjadi Formalitas

Masalah yang sering muncul dalam praktik politik adalah bahwa musyawarah kadang hanya dilakukan sebagai prosedur formal, bukan sebagai proses pencarian kebijaksanaan.

Rapat diadakan, diskusi dilakukan, tetapi keputusan sebenarnya sudah ditentukan sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, musyawarah kehilangan maknanya.

Padahal musyawarah yang sejati menuntut beberapa hal penting:
1. Keterbukaan terhadap berbagai pandangan
2. Kesediaan untuk mempertimbangkan argumen yang lebih baik
3. Ruang bagi kritik yang konstruktif
4. Keterlibatan berbagai sumber pengetahuan

Tanpa unsur-unsur tersebut, musyawarah hanya menjadi ritual administratif yang tidak menghasilkan kebijaksanaan.

Menghidupkan Kembali Esensi Sila Keempat

Untuk membangun tata kelola negara yang lebih bijaksana, esensi musyawarah perlu dihidupkan kembali secara serius.

Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa langkah:
• memperkuat kapasitas deliberasi di lembaga legislatif
• memperluas partisipasi publik dalam proses pembuatan kebijakan
• memperkuat hubungan antara pembuat kebijakan dan komunitas akademik
• menumbuhkan budaya politik yang menghargai kritik sebagai bagian dari pembelajaran kolektif

Dengan langkah-langkah tersebut, musyawarah dapat kembali menjadi mekanisme utama dalam pengambilan keputusan negara.

Penutup

Musyawarah bukan sekadar tradisi politik bangsa Indonesia. Ia juga merupakan prinsip penting dalam ajaran Islam tentang kepemimpinan dan tata kelola masyarakat.

Allah berfirman: “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Dalam ayat lain Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk bermusyawarah dengan para sahabatnya dalam urusan publik: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159)

Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidak akan kecewa orang yang beristikharah dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah.” (HR. Thabrani)

Ayat dan hadis ini menunjukkan bahwa musyawarah bukan sekadar prosedur politik, tetapi jalan menuju kebijaksanaan dalam kepemimpinan.

Dengan menghidupkan kembali semangat musyawarah—baik dalam sistem politik maupun dalam budaya kepemimpinan—Indonesia dapat mengambil keputusan yang lebih matang, lebih bijaksana, dan lebih mampu menjawab tantangan masa depan bangsa. Wallahu a’lam.

Rahmat Mulyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 2 =