Memaknai Hari Santri dengan Menguatkan Budaya Ilmu Pesantren

 Memaknai Hari Santri dengan Menguatkan Budaya Ilmu Pesantren

Dr KH Akhmad Alim Lc

Budaya Adab

Dalam lingkungan pesantren, ilmu dan adab adalah dua hal yang saling terintegrasi, yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya ibarat sebuah koin yang tak terpisahkan, di mana kebermaknaan yang satu tergantung pada yang lainnya. Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah, adab tanpa ilmu ibarat orang yang berjalan tanpa petunjuk arah.

Dengan demikian ilmu dan adab harus bersinergi, tidak boleh dipisah-pisahkan. Berilmu tanpa adab adalah dimurkai (al-maghdhubi alaihim), sementara beradab tanpa ilmu adalah kesesatan (al-Dhallin).

التوحيد يوجب الإيمان, فمن لا إيمان له لا توحيد له, والإيمان يوجب
الشريعة, فمن لا شريعة له لا إيمان له ولا توحيد له, والشريعة توجب
الأدب, فمن لا أدب له لاشريعة له ولا إيمان له ولا توحيد له.

Tauhid mewajibkan wujudnya iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid dan iman mewajibkan syariat, maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak bertauhid dan syariat mewajibkan adanya adab maka barangsiapa yang tidak beradab maka (padahakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.)

Lebih dari itu, ilmu dan adab adalah inti dari ilmu nafi’ yaitu yang bermanfaat. Ilmu nafi’ ini adalah ilmu yang pernah diperintahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam agar diminta dan dicari setiap saat. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman kepada Nabi-Nya,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, wahai Robbku tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thoha: 114)

Melalui ayat ini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diperintahkan untuk senantiasa memohon kepada Allah tambahan ilmu yang bermanfaat. Ibn Uyainah berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak henti-hentinya memohon tambahan ilmu nafi’ kepada Allah sampai beliau wafat”.

Ibn Katsir menambahkan, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah diperintahkan untuk meminta tambahan apapun kecuali tambahan ilmu nafi’ ini, oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa istiqamah melantunkan do’a ilmu nafi sebagaimana berikut ini :

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ

“Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa membaca do’a: “ Ya Allah berikanlah manfaat terhadap apa yang telah engkau jarkan kepadaku, dan ajari aku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahilah aku ilmu, segala puji hanya milikmu atas segala keaadaan, dan aku berlindung dari perilaku ahli neraka.” (HR. Tirmidzi dan Bazzar)

Ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’) akan mendatangkan iman. Realisasi iman akan membawa pada amal shaleh. Integrasi keduanya akan membawa ke jalan yang lurus (sirath mustaqim). Dengan demikian, bila ilmu didapatkan akan tetapi tidak diikuti dengan amal shaleh, bisa digolongkan kepada ilmu yang tidak bermanfaat (ghairu nafi’) dan bahkan termasuk dalam perbuatan munafik.

Ilmu yang bermanfaat selanjutnya akan mendatangkan rasa takut kepada Allah (khasyah) sehingga dapat mendekatkan pemiliknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pemiliknya disebut alim atau ulama. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS.Al-Fathir ayat 28:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah dari hambanya adalah para ulama (orang yang berilmu), sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun.” (QS. Al-Fathir: 28)

Budaya Dakwah

Pesantren dan dakwah adalah dua hal yang tak terpisahkan. Dakwah merupakan bagian pengabdian pesantren untuk membangun masyarakat ke arah yang lebih baik, dan menyelamatkan mereka dari kehancuran.

Dakwah merupakan ruh kehidupan agama Islam. Islam tidak akan tegak tanpa dakwah. Dengan dakwah ini, semua perkara yang ma’ruf akan terealisasikan, demikian juga perkara yang munkar akan terhapuskan. Jika amar ma’ruf dan nahi munkar tegak di tengah-tengah masyarakat, berarti tatanan kehidupan bermasyarakat akan tegak dibagun di atas aturan Allah, sehingga tatanan kehidupan masyarakat yang Islami akan terwujud nyata.

Dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, merupakan benteng pertahanan Islam untuk tetap eksis di muka bumi ini. Dengan dakwah Islam ini, akan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap lingkungan dalam arti memberi dasar filosofi, arah, dorongan dan pedoman perubahan masyarakat sampai terbentuknya realitas sosial baru, yaitu masyarakat Islami yang mengemban amanah Allah sebagai khalifatullah di muka bumi ini.

Perkara amar ma’ruf dan nah Munkar menempati kedudukan yang agung. Dimana para ulama menganggapnya sebagai penopang rukun-rukun Islam. Sesungguhnya Allah telah mengedepankan perkara ini atas keimanan dalam firman-Nya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS.3:110)

Budaya Mandiri

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren telah terbukti mandiri dalam segala hal. Baik dari segi pembiayaannya, maupun pengaturan kurikulumnya, tanpa terkooptasi dari kepentingan-kepentingan eksternal pesantren dan intervensi pihak manapun, sehingga dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada pihak lain.

Keberhasilan di atas, tidak dapat dilepaskan atas nilai-nilai hidup yang dipelihara dan ditanamkan kiai pengasuh pesantren kepada para santrinya. Salah satu nilai yang menjadi ciri khas pesantren dan sekaligus sangat mempengaruhi keberlangsungannya adalah kemandirian.

Kemandirian merupakan sifat yang ditunjukkan untuk tidak menggantungkan diri kepada orang lain, sehingga pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan, tumbuh dan berkembang dengan mengandalkan atas kemampuan sendiri, tanpa tergoda oleh kepentingan-kepentingan pragmatis yang akan merusak orisinalitas dan kekhasan pesantren. Wallahua’lam.

Dr Akhmad Alim
Sekretaris Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 5 =