Memaknai Hari Santri dengan Menguatkan Budaya Ilmu Pesantren

 Memaknai Hari Santri dengan Menguatkan Budaya Ilmu Pesantren

Dr KH Akhmad Alim Lc

Budaya Pesantren

Masyarakat sangat membutuhkan peran ulama untuk hadir dan membimbing serta mengayomi umat, kearah jalan yang benar dan lurus, karena tanpa ulama sudah dapat dipastikan kehidupan manusia laksana binatang.

لولا العلماء لصار الناس مثل البهائم أي أنهم بالتعليم يخرجون الناس من حد البهيمة إلى حد الإنسانية

Seandainya tidak ada ulama niscaya (kehidupan) manusia akan seperti binatang, maksudnya dengan sebab para ulama mengajar dan medidik, maka umat manusia akan dapat mengeluarkan tabia’at binantang manjdi jati diri manusia (yang sempurna).

إِنَّ اللهَ لاَ يَـقْبِضُ اْلعِلْمَ ِاْنتِــزَاعًــا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَــادِ وَلَكِنْ يَقْبْضُ اْلعِلْمَ ِبـقَبْضِ اْلعُلَمَــاءِ حَتىَّ ِإذَالَمْ يَـبْقَ عَـالِمٌ ِاتَّـخَذَ الناَّسُ رُؤُسًا جُهَلاَء ُ َفسُئِلوُاْ فَأَفْـتَوْ اِبغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّواْ وَأَضَلوُّا.(رواه البخارى ومسلم عن ابن عمر رضي الله عنه).

Artinya: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya, tetapi hilangnya ilmu itu dengan sebab wafatnya para ulama. Sehingga jika tidak ada lagi satupun ulama, maka masyarakat akan mengangkat pemimpin yang bodoh. Masyarakat meminta fatwa kepada ulama (yang bodoh), lalu ulama bodoh itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR.Bukhari Muslim).

Untuk itu, pesantren sebagai lembaga Pengkaderan ulama, telah lama berperan aktif dalam menyiapkan estafet kepemimpinan ulama. Karena kaderisasi sebagai supra struktur yang memilki peran penting terhadap suksesi kepemimpinan umat. Sejarah timbul dan tenggelamnya peradaban umat, memberikan pelajaran yang berharga tentang pentingnya kaderisasi.

Tujuan kaderisasi ulama pada dasarnya adalah untuk mempersiapkan calon ulama hingga menjadi ulama yang giat berdakwah mensyi’arkan Islam di tengah-tengah masyarakat.

الْعُلَمَاءُوَرَثَةُ اْلأَنبْياَءُوَإِنَّ اْلأَ نْبِياَءِلَمْ يُوْرَثوُا ِديْنَارًاوَلاَدِرْهَمًاوَلَكِنْ وُرِثُواْالعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَمِنْهُ فَـقَدْأَخَذَبِخَظٍّ وَافِر

Ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak diwarisi dinar dan dirham (harta), namun mereka diwarisi ilmu. Barangsiapa yang mengambil imu dari padanya, maka ia memperoleh keuntungan yang banyak. (HR.Buhari).

Paling tidak ada empat budaya, yang dikembangkan pesantren dalam rangka melaksanakan program kaderisasi ulama di masa mendatang.

Budaya Ilmu

Budaya ilmu ini diharapkan agar santri menguasai berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman secara luas dan mendalam, melalui pengkajian kitab kuning (turats), dan juga kitab pemikiran kontemporer.

Rasulullah saw bersabda, “Jadilah kamu orang mengajarkan ilmu, atau orang yang mencari ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah kamu menjadi golongan yang ke lima, sebab kamu akan celaka.”

Hadits ini menegaskan keharusan setiap orang berperan dalam pembangunan peradaban ilmu itu. Dan pilihannya hanya ada empat.

Pertama, menjadi ulama yang membagikan ilmu. Kedua, menjadi penuntut ilmu yang tekun dan serius. Ketiga, menjadi pendengar ilmu di waktu-waktu senggang bagi orang yang sibuk. Dan terakhir, menjadi pecinta ilmu dengan membantu orang lain dalam mencari ilmu, baik dengan memberi bantuan harta atau hal yang lainnya. Dan inilah yang terjadi pada masa jaya kaum muslimin dahulu. Semua pihak memiliki peran masing-masing dalam menegakkan peradaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × one =