Khutbah Jumat: Merawat Ketaatan Usai Ramadhan
Oleh:
Dr. Salahuddin El Ayyubi, Lc. MA
Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah…
Belum lama rasanya kita berpisah dengan bulan suci Ramadhan. Gema takbir Idul Fitri mungkin sudah mereda, aktivitas perkantoran, perkuliahan, dan perniagaan telah kembali berjalan normal.
Namun, di hari Jumat yang mulia ini, mari kita sejenak menatap cermin diri kita masing-masing. Di tengah hiruk-pikuk kembalinya kita pada rutinitas duniawi, ada sebuah realitas pahit yang mengiris hati kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW.
Tahukah kita? Berdasarkan catatan survei terbaru, sepertiga lebih dari saudara-saudara kita sebangsa, kemarin masih belum menunaikan puasa Ramadhan.
Yang lebih menyayat hati, lebih dari 60% umat Islam di negeri ini masih membiarkan sholat lima waktunya bolong-bolong.
Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah potret keroposnya tiang agama kita. Padahal, Rasulullah ﷺ dengan sangat tegas telah mengingatkan batas demarkasi keimanan kita:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ
”Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
Hadirin yang dirahmati Allah…
Ujian keimanan yang sesungguhnya bukanlah saat kita berada di bulan Ramadhan, melainkan hari-hari setelahnya. Di era modern ini, di mana kesibukan dunia, pusaran karir, dan godaan materi begitu masif, sholat seringkali menjadi hal pertama yang paling mudah kita korbankan.
Kita hidup di zaman di mana orang rela menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar gawai, takut tertinggal informasi duniawi, dan sibuk mengejar target-target yang fana.
Namun anehnya, kita justru merasa sangat berat meluangkan waktu sepuluh menit saja untuk memenuhi panggilan Dzat Yang Maha Memberi Rezeki. Kita kehilangan prioritas.
Padahal Allah SWT telah memperingatkan kita:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Artinya: Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (Thaha: 131)
Ketaatan menuntut kesabaran ekstra di tengah arus zaman yang semakin materialistis ini. Allah tidak butuh sholat kita, kitalah yang butuh sholat sebagai jangkar agar kita tidak terseret arus dunia yang menipu.
Sidang Jumat yang berbahagia…
Mari kita renungkan lebih dalam. Krisis moral, maraknya korupsi, eksploitasi alam yang merampas ruang hidup masyarakat kecil, hingga terkikisnya kepedulian di negeri ini, sejatinya tidak terjadi secara tiba-tiba.
Semuanya berakar dari satu penyakit kronis: hilangnya Ihsan. Hilangnya kesadaran bahwa kita selalu diawasi oleh Tuhan bukan hanya saat kita bersimpuh di atas sajadah, tetapi juga saat kita berada di ruang-ruang publik, di balik meja kerja, di tengah pasar, dan di dalam institusi tempat kita mengambil kebijakan.
Data yang menunjukkan sepertiga umat masih bolong puasanya ini bukanlah sekadar catatan statistik kelalaian ibadah individu. Ini adalah lampu merah bahaya bagi struktur sosial dan ketahanan moral bangsa kita! Mengapa? Karena melalui rasa lapar dalam puasa, Allah SWT sebenarnya sedang memberikan intervensi sosial.
Allah memaksa kita turun dari menara gading kenyamanan materi agar kita bisa merasakan langsung perihnya lambung kaum dhuafa; mereka yang berada di pelosok-pelosok desa atau di sudut-sudut kumuh perkotaan, yang kelaparan bukan karena niat berpuasa, melainkan karena himpitan ekonomi dan ketidakadilan sistem yang menyingkirkan mereka.
Jika instrumen kepedulian Ilahiah berupa kewajiban menahan lapar ini saja kita manipulasi dan kita abaikan, maka perlahan tapi pasti, nurani kita akan membatu dan empati sosial kita mati.
Ketika empati itu mati, kesenjangan di tengah masyarakat akan semakin menganga. Yang memiliki akses dan kuasa akan semakin serakah menumpuk kekayaan tanpa memikirkan hak orang lain, sementara yang lemah semakin tercekik karena masyarakat telah kehilangan rasa peduli.
Logikanya sangat sederhana dan menohok, Saudaraku! Kepada kewajiban sholat dan puasa yang sesungguhnya tidak menuntut modal uang sepeser pun ia berani menipu dan berkhianat kepada Sang Pencipta. Kepada Dzat Yang Memberinya detak jantung saja ia berani berkhianat.
Lalu, dengan jaminan apa kita bisa berharap ia akan bersikap amanah saat memegang mandat rakyat? Dengan jaminan apa ia akan bertindak jujur saat mengelola anggaran, merumuskan kebijakan publik, atau memimpin sebuah institusi yang dipenuhi dengan godaan ratusan juta hingga miliaran rupiah? Mustahil!
Orang yang berani memutus tali ketaatan vertikalnya dengan Allah, pasti akan jauh lebih berani merusak tatanan keadilan horizontal di tengah masyarakat.
Pengkhianatan terhadap rukun Islam yang paling mendasar adalah gerbang utama menuju kebangkrutan integritas dan runtuhnya peradaban sebuah bangsa.
Sidang Jumat yang berbahagia…
Melihat segala kerusakan sistem dan merosotnya integritas di tengah masyarakat ini, mungkin kita bergumam dalam hati ingin memperbaikinya, atau setidaknya mulai memperbaiki ketaatan diri kita sendiri. Namun, penyakit terbesar kita sebagai manusia modern hari ini adalah ilusi waktu.
Kita sering menunda-nunda. Kita berdalih, “Nanti saja saya perbaiki sholat saya kalau urusan proyek ini selesai.
Nanti saja saya mulai jujur dan berderma kalau karir sudah mapan.” Kita terus mengejar dunia seolah kita akan hidup selamanya, hingga kita lupa bahwa setiap karir, setiap jabatan, dan setiap helaan nafas kita memiliki batas waktu yang tak bisa dinegosiasi.
Dan penghenti dari segala penundaan itu adalah kematian. Kematian bukanlah sekadar berpisahnya ruh dari jasad, melainkan batas akhir di mana buku amal dan kontribusi kita ditutup paksa.
Pertanyaannya hari ini bukanlah kapan maut itu datang, melainkan: apa warisan yang akan kita tinggalkan sebelum maut itu benar-benar tiba?
Sebagai seorang profesional, akademisi, pejabat, pengusaha, atau pekerja… apakah ilmu dan posisi kita sudah menjadi jalan untuk menegakkan keadilan dan agama Allah?
Atau justru membuat kita semakin angkuh dan jauh dari-Nya? Waktu bergulir begitu cepat. Jangan sampai kita menjadi hamba yang bangkrut; sukses membangun karir yang dihormati di mata manusia, namun hartanya tak ada yang mengalir menjadi wakaf, ilmunya tak membawa manfaat bagi umat, dan tiang agamanya rubuh di hadapan Allah.
Kita sibuk menyusun target-target organisasi dan bisnis untuk bertahun-tahun ke depan, namun kita lupa menyusun peta jalan keselamatan kita sendiri di akhirat. Jika maut menjemput saat kita sedang berada di puncak kejayaan duniawi, namun dalam keadaan miskin sujud dan empati kepada sesama, maka gelar dan jabatan apa pun tak akan mampu menyelamatkan kita dari hisab yang menyala.
Barakallahu lii wa lakum fil qur’aanil azhiim. Wanafa’nii wa iyyakum bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qawlii haadzaa, wastaghfirullaahal ‘azhiim lii wa lakum, fas-taghfuruu-hu, innahuu huwal ghafuurur rahiim.
Khutbah Kedua
Sidang Jumat yang dirahmati Allah…
Di penghujung khutbah yang singkat ini, mari kita tundukkan hati dan kepala kita, menengadahkan tangan memohon ampunan kepada Dzat Penguasa Langit dan Bumi.
Allahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat, wal mu’miniina wal mu’minaat, al ahyaa-i minhum wal amwaat…
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim… Di siang hari Jumat yang mulia ini kami menengadahkan tangan yang berlumur dosa.
Ampuni kami, Ya Allah. Ampuni kelalaian kami yang seringkali tertipu oleh ilusi waktu, menunda-nunda taubat seolah umur kami tak terbatas.
Ampuni mata yang lebih sering menatap urusan duniawi daripada membaca ayat-ayat-Mu.
Ampuni kaki yang begitu ringan mengejar harta dan kedudukan, namun terasa berat untuk melangkah memenuhi panggilan-Mu.
Ya Rabb Yang Maha Menatap… Sucikanlah rezeki kami. Jaga integritas kami di tempat kami bekerja dan mengabdi.
Jadikanlah ilmu, jabatan, dan profesi yang kami emban hari ini sebagai jalan untuk menegakkan keadilan dan menolong agama-Mu, bukan sebagai alat kesombongan yang membutakan mata hati.
Tumbuhkanlah kepekaan dan empati di dada kami, agar kami tidak menjadi hamba yang zalim dan abai terhadap penderitaan kaum dhuafa di sekeliling kami.
Ya Allah, ampunilah kedua orang tua kami. Terangilah alam barzah mereka yang telah mendahului kami, peluk mereka dengan rahmat-Mu sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil. Selamatkan pula keluarga kami, istri dan anak-anak kami.
Jadikanlah rumah kami sebagai madrasah tempat tegaknya sholat, dan karuniakanlah kami keturunan yang mengutamakan rukun Islam, yang kelak doanya menjadi penerang di alam kubur kami.
Ya Allah, Yang Maha Membolak-balikkan hati… Perbaikilah keadaan bangsa kami.
Karuniakanlah kepada kami para pemimpin yang takut kepada-Mu, yang menjaga amanah rakyat dengan penuh kejujuran. Jauhkan negeri ini dari kerakusan, korupsi, dan pengkhianatan amanah.
Jadikanlah tegaknya sholat dan puasa kami sebagai benteng moral yang menyelamatkan bangsa ini dari kebinasaan.
Ya Rabb… Jangan cabut nyawa kami saat kami sedang lalai.
Jika tiba saatnya Engkau memanggil kami pulang, matikanlah kami dalam keadaan bersujud, dalam keadaan husnul khotimah, dengan membawa lisan yang basah menyebut nama-Mu.
Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar.
