Jalur Gaza Dilanda Banjir, Kantor PBB: Warga Hidup Sangat Memprihatinkan
Ilustrasi: Seorang bocah duduk di dekat tungku untuk menghangatkan diri saat turun hujan di tempat penampungan sementara dekat pantai di Kota Gaza, pada 14/11/2025. [Xinhua]
New York (Mediaislam.id) – Empat hari setelah hujan lebat yang mengakibatkan sebagian besar wilayah Jalur Gaza terendam banjir, warga Palestina hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Fakta itu disampaikan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) pada Rabu (19/11/2025).
OCHA menyebutkan, situasi tersebut terus berlanjut meskipun PBB dan para mitranya telah berupaya menjangkau masyarakat yang membutuhkan bantuan setelah hujan pada Jumat (14/11) itu.
OCHA mengatakan bahwa perkiraan terbaru menunjukkan lebih dari 18.600 rumah tangga terdampak, sementara ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal atau kembali mengungsi.
“Angka ini terus meningkat seiring para mitra menyelesaikan perhitungan tambahan untuk mengukur sejauh mana kerusakan yang disebabkan oleh badai,” ujar OCHA.
Seiring mendekatnya musim dingin, OCHA mengatakan para mitranya yang bertugas menangani penampungan memperingatkan bahwa volume barang yang masuk ke Gaza belum cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sangat besar.
OCHA memaparkan bahwa sejak kebutuhan pasokan untuk tempat penampungan diizinkan masuk ke Gaza pada September lalu setelah larangan selama enam bulan, badan dunia tersebut, para mitranya, dan negara-negara anggota PBB telah menyalurkan sebanyak 60.000 tenda, 346.000 terpal, dan 309.000 barang perlengkapan tidur. Ratusan ribu orang kini membutuhkan bantuan tempat tinggal segera mengingat musim dingin kian dekat.
Lebih lanjut OCHA mengatakan bahwa sebagai bagian dari respons menjelang musim dingin, para mitranya yang berfokus pada perlindungan anak telah mendistribusikan 48.000 paket pakaian musim dingin untuk anak-anak di seluruh Jalur Gaza sejak berlakunya gencatan senjata pada 10 Oktober.
Badan kemanusiaan PBB tersebut menuturkan para mitranya yang bertugas menangani gizi mencatat penurunan bertahap dalam jumlah pasien yang dirawat akibat malanutrisi dalam dua bulan terakhir, dengan sekitar 9.280 kasus yang dirawat bulan lalu, dibandingkan dengan lebih dari 11.740 kasus pada September. Namun, angka pada Oktober masih hampir empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan angka Januari.
OCHA mengatakan bahwa para mitranya yang menangani air dan sanitasi melaporkan dalam dua hari terakhir mereka telah mendistribusikan popok, handuk, jeriken, dan barang-barang penting lainnya untuk memenuhi kebutuhan terkait kebersihan bagi 400.000 orang.
“Namun, mereka memperingatkan bahwa kondisi sanitasi dan kebersihan di Gaza sangat buruk, karena tidak adanya kapasitas pengolahan air limbah di wilayah tersebut akibat rusaknya infrastruktur secara luas setelah dua tahun perang,” ujar OCHA.
Kantor PBB itu menyebutkan bahwa kolam sampah Sheikh Radwan di Jabalya, Gaza utara, berisiko meluap akibat hujan. Para mitra hanya dapat memberikan solusi jangka pendek dengan membuang limbah ke laut.
