Diplomasi Utbah bin Rabi’ah Halangi Dakwah Islam
Ilustrasi: Suasana Masjidil Haram di masa lalu.
Rasulullah Saw memahami bahwa tawaran ini hanya untuk melemahkan dakwah tauhid. Rasulullah Saw dengan mantap membacakan surat Fusshilat ayat 1-3:
حم تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Ḥā Mīm. (Al-Qur`an ini) diturunkah dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kitab yang ayat-ayatnya djelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. (QS. Fusshilat ayat 1-3)
Rasulullah Saw terus membacakan surat Fusshilat sampai ayat 13.
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
Jika mereka berpaling, katakanlah, “Aku telah memperingatkan kamu (azab berupa) petir seperti petir yang menimpa (kaum) ‘Ad dan (kaum) Samud. (QS. Fusshilat ayat 13)
Utbah bin Rabi’ah sangat mengerti ayat yang Rasulullah Saw karena dirinya ahli syair. Ia dengan segera menahan mulut Rasulullah Saw agar berhenti. Seolah-olah dia tersihir oleh apa yang dibacakan Rasulullah Saw. Segera dirinya pergi meninggalkan Rasulullah Saw.
Dari pertemuan tersebut Utbah bin Rabi’ah tak menemui keluarganya dan menahan diri dari kaumnya. Saat Abu Jahal dan kawan-kawannya menemui Utbah bin Rabi’ah di rumahnya, dia berkata pada mereka:
“Muhammad menjawabku dengan suatu perkataan. Demi Allah itu bukan sihir, syair atau perdukunan.. Kalian sungguh telah mengetahui bahwa jika Muhammad mengatakan sesuatu, maka itu tidak akan dusta. Aku sangat khawatir akan turun siksa kepada kalian. Biarkanlah orang ini dengan urusannya, dan hindarilah dia. Demi Allah perkataannya yang kudengarkan benar-benar menjadi berita besar. Jika bangsa Arab mau menerimanya, maka dengan kehadirannya kalian tidak membutuhkan bangsa lain. Jika dia dapat menguasai bangsa Arab, maka kerajaannya akan menjadi kerajaan kalian pula dan kemuliaannya menjadi kemuliaan kalian. Jadilah kalian menjadi orang yang paling bebahagia karenanya”
Ya Utbah bin Rabi’ah mengakui kebenaran yang diucapkan Rasulullah Saw. Mengakui kejujuran lisan Rasulullah Saw. Mengakui kemuliaan risalah Rasulullah Saw. Tapi sayangnya dirinya telah menghinakan dirinya sendiri. Dirinya telah menutupi keimanan pada jiwa dan akalnya. Dirinya mendatangkan kemurkaan Allah. Karena dirinya lebih memilih berpegang pada kefanatikan dan kejumudan dalam kekufuran serta kedengkian. Wallahu a’lam bish-shawab. []
Yulika
