Cahaya Islam di Jerman: Upaya Pengakuan Identitas Islam di Jantung Eropa
Ilustrasi: Suasana Ramadhan di Frankfurt. [foto: thelocal.de]
“Faktanya, hanya sekitar 30 persen wanita Muslim di Jerman yang berani menunjukkan identitasnya dengan berhijab di ruang publik atau tempat kerja. Banyak yang terpaksa menyembunyikan identitas demi menghindari diskriminasi,” ungkap Dounia.
Ia menceritakan pengalaman keponakannya yang harus menerima kenyataan pahit bahwa ia ditolak oleh berbagai perusahaan saat melamar kerja hanya karena berhijab, meskipun memiliki kompetensi yang mumpuni.
“Bukan hanya soal hijab, nama-nama yang terdengar ‘Islami’ pun sering kali menjadi sasaran diskriminasi halus dalam proses rekrutmen,” tambah Dounia.
Menutup ceritanya, Dounia menekankan bahwa cara terbaik melawan Islamofobia adalah dengan membangun komunikasi yang hangat.
Salah satu tradisi unik yang dijalankan masyarakat Muslim di lingkungannya adalah berpartisipasi dalam perayaan Natal dengan cara mereka sendiri.
“Setiap tahun, perempuan Muslim di sini dengan sukarela memasak dan membagikan kudapan bagi para lansia di panti jompo saat Natal. Kami ingin menunjukkan bahwa toleransi adalah berbuat kebaikan untuk siapa saja tanpa memandang agama,” kata Dounia.
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, juga mengakui bahwa tantangan terbesar bagi umat Islam Eropa saat ini masih berkutat dengan islamofobia dan diskriminasi identitas.
“Ini tantangan sekaligus ujian bagi masyarakat Muslim Eropa dalam berdakwah, untuk lebih kuat lagi dan lagi,” kata Didik.
Selain kehidupan sosial, Didik mengatakan bahwa diskriminasi juga berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat Muslim Eropa, misalnya, diskriminasi terhadap cara berpakaian atau hijab.
“Meskipun rasisme dan Islamofobia masih dirasakan di Eropa, saya memandangnya sebagai sebuah tantangan untuk mengokohkan jati diri umat Muslim di tengah masyarakat Eropa,” imbuh Didik.
Ketua The Lead Institute, Dr. Phil Suratno Muchoeri memaparkan, Islam telah menjadi agama terbesar kedua di Jerman dengan jumlah pemeluk mencapai enam juta jiwa atau sekitar tujuh persen dari total populasi. Tiga juta di antaranya telah menjadi warga negara Jerman.
“Pertumbuhan Islam di Jerman memiliki sejarah panjang, mulai dari gelombang ‘Guest Workers’ (tenaga kerja migran) asal Turki pada tahun 1950-an hingga gelombang pengungsi konflik Timur Tengah pada 2011-2013,” tutur alumni Universitas Goethe Frankfurt ini.
