Cahaya Islam di Jerman: Upaya Pengakuan Identitas Islam di Jantung Eropa

 Cahaya Islam di Jerman: Upaya Pengakuan Identitas Islam di Jantung Eropa

Ilustrasi: Suasana Ramadhan di Frankfurt. [foto: thelocal.de]

Jakarta (Mediaislam.id) – Sukacita perayaan Ramadhan 1446 Hijriah atau 2026 Masehi di Jerman rupanya sama semaraknya dengan meriahnya bulan puasa di Indonesia.

Tahun ini menjadi kali kedua kota metropolitan seperti Frankfurt bermandikan cahaya dengan hiasan lampu dekorasi bertuliskan “Ramadan Kareem” di jalan-jalan besar, sebuah tradisi yang biasanya hanya identik dengan perayaan Natal.

Semaraknya Ramadhan di Frankfurt dua tahun belakangan menunjukkan kabar positif mengenai meningkatnya kesadaran publik terhadap keberadaan pemeluk Islam di Jerman.

Cerita ini disampaikan seorang guru muslimah, Dounia Schuler Barkok, yang tinggal di jantung Eropa, Frankfurt dalam webinar bertajuk “Islam di Jerman: Menjadi Muslim, Perempuan, dan Minoritas” yang digelar pada Ahad malam lalu (22/2).

Acara ini digelar hasil kerja sama The Lead Institute Universitas Paramadina dengan Maha Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation sebagai bagian dari rangkaian program Ramadhan 2026 bertema besar “Cahaya Islam Lintas Benua”.

Berbagi cerita tentang ibadah, Dounia menyebut Ramadan tahun ini terasa lebih mudah karena jatuh pada musim dingin dengan durasi puasa sekitar 11 hingga 12 jam, jauh berbeda jika bulan puasa jatuh pada musim panas yang bisa mencapai 18 jam.

Dounia aktif beribadah di Maroko Mosque, sebuah masjid yang menjadi titik temu jamaah multikultural dari berbagai negara.

“Di masjid, kami melaksanakan shalat Tarawih merujuk pada Mazhab Maliki. Kami juga kerap menyelenggarakan buka puasa bersama yang mengundang tetangga non-muslim untuk turut menikmati hidangan sederhana kiriman para jamaah,” jelasnya.

Namun, berbeda dengan Indonesia yang menyediakan ragam nasi kotak, makanan yang disediakan di masjid-masjid Jerman umumnya hanya berupa camilan yang merupakan sumbangan dari jamaah masjid.

Walaupun Frankfurt mulai bersahabat dengan simbol-simbol Islam, Dounia mengungkapkan bahwa di sektor privat, diskriminasi masih menjadi ganjalan besar.

Secara undang-undang, pemerintah Jerman menjamin identitas dan kesetaraan hak bagi perempuan Muslim, tapi faktanya, masalah Islamofobia, Neo-Nazi dan rasisme, serta stigma Frankfurtistan—sebuah slang politik yang sering digunakan oleh kelompok sayap kanan, kritikus imigrasi, atau penganut teori konspirasi di Jerman—masih terus terjadi.

Sebagai seorang mualaf, Dounia merasa beruntung lingkungan menerima identitasnya. Namun, hal ini tidak berlaku bagi banyak Muslimah lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − five =