Banyak Mengingat Kematian
Ilustrasi: Ziarah kubur.
Menurut Syekh Shalih, orang yang banyak mengingat mati, dia akan mendapatkan tiga jenis kemulian, yaitu penyegeraan taubat, kepuasan hati dan kerajinan beribadah.
Sedangkan orang yang suka melupakan mati, akan mendapatkan tiga akibat, yaitu menunda-nuda tobat, tidak puas terhadap apa yang ada dan malas beribadah.
Di antara sesuatu yang yang bisa mempengaruhi jiwa ialah menghadiri jenazah secara langsung, melihat mayat dan juga melihat tatkala ajal menjemput orang yang meninggal serta memperhatikan bagaimana gambaran sesudah meninggalnya, tatkala nafasnya berhenti dan tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya.
Al-Hasan Al-Basri pernah menjenguk orang sakit lalu dia mendapatkan orang yang sakit itu dalam sakaratil-maut. Dia juga menyaksikan bagaimana penderitaan yang dia alaminya. Kemudian dia pulang kepada keluarganya dalam keadaan tidak seperti tatkala dia pergi dari rumahnya. Tatkala dia disuruh makan, maka dia berkata, “Wahai keluargaku, hendaklah kamu makan dan minum sendiri. Demi Allah, sungguh aku telah melihat suatu pertempuran yang membuatku harus berbuat sesuatu untuk menghadapinya.”
Kemudian, yang dapat melengkapi perasaan mengingat mati ialah menyalatkan jenazah, memanggulnya, mengiringnya hingga ke kuburan, memanggul dan ikut menguruknya dengan tanah.
Semua itu bisa mengingatkan seseorang pada hari akhirat, sebagaimana yang dikatakan Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam: “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (HR Ahmad).
Di samping itu, mengiringi jenazah mempunyai pahala yang besar sebagaimana yang disebutkan Nabi Muhammad Saw: “Barangsiapa menghadiri jenazah dari rumahnya (dalam suatu riwayat yang lain disebutkan: Barangsiapa mengiringi jenazah orang Muslim dan mengharapkan pahala Allah) hingga menyalatinya, maka baginya satu qirath pahala, dan barangsiapa menghadiri jenazah hingga jenazah itu dikubur, maka baginya dua qirath pahala. Ada yang bertanya, Wahai Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam, apakah dua qirath tersebut?’ Beliau menjawab, ‘Seperti dua gunung yang besar.”
Orang-orang salaf juga mengingatkan kematian tatkala menasihati orang yang melakukan kedurhakaan. Tatkala dalam suatu majlis ada seseorang yang menggunjing saudaranya, maka salah seorang dari orang salaf tersebut menasihatinya seraya berkata, “Ingatlah saat kafan diletakkan di tubuh mayat yang berada di hadapanmu.” []
Sumber: Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid, Obat Lemahnya Iman (Terjemah). Jakarta: Darul Falah, 1422 H.
