Baghdad: Kota Indah di Lembah Mesopotamia
Ilustrasi: Kota Baghdad.
Para Astrolog itu menjawab: Ya Amiril Mu’minin! Sekarang bintang Mustari sedang bersinar dalam lingkaran. Menurut ramalan kami, kota yang baru ini akan panjang usianya, akan menjadi sebuah kota yang indah permai, termasyhur ke seluruh dunia. Selain dari itu tidak ada seorang Khalifahpun yang wafat di kota ini.
Khalifah Al-Mansur tersenyum seraya mengucapkan syukur alhamdulillah. Belakangan diketahui, para Bani Abbas yang turun-temurun berkedudukan di kota Baghdad tidak ada yang wafat di sana.
Khaliran Al-Mansur wafat ketika melakukan ibadah haji di Mekkah.
Khalifah Al-Mahdy wafat di Sabzan
Khalifah Al-Hady wafat di ‘Isabaz
Khalifah Harun Ar-Rasyid wafat di Taus.
Khalifah Al-Makmun wafat di Bazandon, dimakamkan di Turtus.
Khalifah Mu’tashim wafat di Surra-man-raa (Samarra).
Demikianlah Khalifah-khalifah Bani Abbas selanjutnya, tidak ada yang wafat di kota Baghdad itu.
Kota Baghdad yang baru didirikan itu, bundar. Bentuknya tidak ada pada waktu itu sebuah juapun kota-kota dunia yang demikian bentuknya. Di sekeliling kota dipagari dengan tembok batu yang tebal dan tinggi. Kota tersebut mempunyai empat buah gapura untuk keluar masuk:
1. Bab al-Kufah, dari jurusan tanah Hijaz.
2. Bab as-Syam, dari jurusan Barat.
3. Bab al-Bashrah, dari jurusan Bashrah.
4. Bab al-Khurassan, dari jurusan Timur.
Pada tembok kota antara satu gapura dengan gapura lainnya terdapat 28 buah menara pengintip yang dikawal siang malam.
Adapun gapura kota Bab al-Kufah sebelah luarnya, berasal dari salah satu pintu istana Kisra Persia. Pintu gapura Bab al-Khurassan, didatangkan dari Mesir, yaitu bekas peninggalan bangunan Fir’aun. Lain dari itu ada pula lima buah pintu yang indah, dibawa dari Wasit, bekas peninggalan istana raja Sulaiman yang kaya raya.
Pada setiap gapura itu, di sebelah atasnya dibuatkan sebuah tribun, sebagai anjung peranginan, yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang amat indahnya. Tribun-tribun itu mempunyai kubah menurut wujud cipta Arab-Persi. Di dalamnya diperlengkapi dengan berbagai perabot yang mahal dan digunakan untuk tempat Sultan beristirahat.
Apabila Sultan ingin hendak beristirahat, sambil menghirup udara yang bersih segar: adakalanya Sultan naik ke atas tribun Bab al-Khurassan. Dari sana pemandangan lepas ke sepanjang sungai Dajlah yang ramai dengan perahu bersimpang-siur, amat indah rupanya.
Apabila Sultan ingin melihat kebun dan ladang yang hijau rindang, Sultan beristirahat di tribune Bab al-Kufah.
