Ar-Razi: Sang Ahli Psikologi Islam
Ilustrasi: Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi
Setelah kematian Khalifan al-Muktafi tahun 907 Masehi, Ar-Razi memutuskan k kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpulkan murid-muridnya.
Dalam buku Ibnu Nadim berjudul “Fihrist”, Ar-Razi diberikan gelar “Syekh” karena dia memiliki banyak murid. Selain itu, Ar-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.
Ar-Razi meninggal pada tahun 313 H atau 925 Masehi dalam usia 60 tahun. Setelah kepergiannya, kontribusi Alm di berbagai bidang keilmuan membuat namanya semakin dikenal di Timur Tengah hingga dunia Barat.
Kontribusi dalam Psikologi
Ar-Razi tidak hanya seorang tabib yang ulung, tetapi juga seorang filosof dan ilmuwan yang tertarik pada pemahaman manusia secara menyeluruh, termasuk aspek psikologisnya.
Dalam karyanya, dia sering mencoba menjelaskan fenomena psikologis dengan menggunakan pengetahuan kedokteran dan filsafat Islam. Berikut adalah beberapa kontribusi utama Ar-Razi dalam psikologi:
1. Konsep Jiwa dalam Islam
Pemahaman Ar-Razi tentang jiwa manusia dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Yunani klasik, terutama dari Plato dan Aristoteles, yang kemudian dia sintesiskan dengan konsep-konsep Islam.
Dia percaya bahwa jiwa manusia terdiri dari beberapa elemen yang saling terkait, seperti akal (intellect), nafsu (desire), dan roh (spirit). Ar-Razi menyelidiki interaksi antara elemen-elemen ini dalam membentuk kepribadian manusia dan menggambarkan kompleksitas psikologis yang ada dalam diri manusia.
2. Pengamatan Psikologis
Ar-Razi merupakan seorang pengamat yang teliti terhadap perilaku manusia dan proses pikirannya. Dalam karya-karyanya, ia menggabungkan pengalaman empiris dengan pengetahuan teoritis untuk memahami alam psikis manusia.
Pendekatannya yang berbasis pengamatan memberikan landasan yang kuat bagi perkembangan ilmu psikologi dalam tradisi Islam. Dia memahami bahwa faktor-faktor seperti lingkungan, genetika, dan pengalaman masa lalu berperan dalam membentuk kepribadian dan perilaku seseorang.
3. Penyakit Mental
Ar-Razi juga memberikan kontribusi dalam memahami penyakit mental. Meskipun tidak menggunakan istilah-istilah modern seperti kita gunakan sekarang, dia mengamati gejala-gejala gangguan mental dan mencoba untuk mencari solusi berdasarkan pengetahuannya tentang kedokteran dan agama.
