Ar-Razi: Sang Ahli Psikologi Islam
Ilustrasi: Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi
PADA MASA peradaban Islam, khususnya era dinasti Abbasiyah dan Umayyah II, kehidupan masyarakat mengalami perkembangan yang sangat pesat, tak terkecuali perkembangan pada bidang ilmu pengetahuan.
Pada masa itu, perkembangan ilmu pengetahuan menjadi kiblat dan inspirasi peradaban bangsa-bangsa lain. Hampir semua karya-karya ilmuwan dan para cendekiawan muslim diterjemahkan dan dipelajari di Eropa dan wilayah-wilayah yang lain..
Di masa peradaban Islam ada banyak bintang yang bersinar. Salah satunya bernama Abu Bakar ar-Razi.
Abu Bakr Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi , atau lebih dikenal sebagai Ar-Razi, adalah seorang cendekiawan Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan kedokteran, kimia, filsafat, dan agama Islam. Selama masa hidupnya pada abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, ia membuat kontribusi penting dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk psikologi.
Dalam esai ini, kita akan menjelajahi pemikiran dan kontribusi Ar-Razi dalam bidang psikologi Islam.
Biografi Singkat
Ar-Razi mempunyai nama lengkap yaitu Abu Bakr Muhammad ibn Zakariya Ar-Razi , beliau lahir pada tanggal 28 agustus tahun 865 Masehi di Ray, Iran. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran.
Di kota ini juga, Ibnu Sina menyelesaikan hampir seluruh karyanya. Dia dididik dalam tradisi kedokteran Persia kuno dan juga belajar dari pengetahuan Yunani Klasik yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa itu.
Semasa kecil, Ar-Razi menekuni dunia tarik suara atau musisi sebelum akhirnya ia terjun ke dunia alkemia dan sains.
Pada masa keemasan Islam, kota-kota seperti Baghdad menjadi pusat pembelajaran, di mana Ar-Razi belajar dan mengembangkan pemikiran-pemikirannya. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Ali Ibnu Sahal At-Tabari, seorang dokter sekaligus filsuf yang lahir di Baghdad.
Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy pada masa kekuasaan Mansur Ibnu Ishaq.
Selang bebrapa tahun kemudian, ia kembali ke Baghdad pada masa kepemimpinan Al-Muktafi serta memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad.
