Pelacur yang Bertobat

 Pelacur yang Bertobat

Foto: Ilustrasi [pixabay.com]

IMAM Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya, “Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Mustaqin” menulis bab berjudul “Meninggalkan Sesuatu yang Dicintai karena Hukumnya Haram dan Menggantinya dengan yang halal.”

Kaidah dari bab tersebut, kata Ibnul Qayyim, adalah barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

Dalam bab tersebut Ibnul Qayyim mencontohkan Nabi Yusuf As, Nabi Sulaiman, Kaum Muhajirin, dan sejumlah contoh lainnya yang menegaskan tentang kaidah di atas. Salah satu di antara kisah yang ditulis oleh Ibnul Qayyim adalah bertobatnya seorang pelacur lantaran bertemu dengan seorang pemuda yang takut kepada Allah SWT.

Al-Hasan Al-Bashri menuturkan, ada seorang wanita pelacur yang sangat cantik, tak seorang wanita pun yang mampu menandingi kecantikannya. Siapa yang Ingin menjamahnya, maka dia harus membayar seratus dinar.

Ceritanya ada seorang pemuda yang sempat memandang wanita pelacur itu dan hatinya langsung tertawan kepadanya. Lalu dia pergi, bekerja dengan giat, menabung hasilnya hingga mencapai seratus dinar. Pemuda itu menemui wanita tersebut dan berkata, “Kau telah membuat hatiku tertawan. Maka aku pergi, bekerja dan menabung hingga saya bisa mengumpulkan uang sebanyak seratus dinar.”

“Serahkan saja uang itu kepada manajerku!”

Setelah urusan uang pembayaran selesai, wanita pelacur berkata kepadanya, “Masuklah!” Wanita itu mempunyai sebuah rumah yang tinggi dan indah, tempat tidurnya terbuat dari emas. “Marilah ke sini!”

Tatkala pemuda itu sudah duduk berdampingan dengannya, dengan tingkah layaknya seorang pengkhianat, maka tiba-tiba dia ingat kedudukannya di hadapan Allah. Langsung dia menggigil dan gejolak birahinya menjadi padam.

“Biarkan aku keluar dan pergi dari tempat ini, dan uang seratus dinar tetap menjadi milikmu,” kata sang pemuda.

“Apa yang terjadi dengan dirimu? Dulu kau katakan bahwa kau melihat diriku dan terpesona kepadaku, lalu kau pergi, bekerja, menabung dan mampu mengumpulkan seratus dinar. Tatkala engkau sudah bisa menjamahku, justru kau berbuat seperti ini.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 3 =