PBNU Periode 2026–2031 Resmi Dilantik di Pesantren Al-Hamid

 PBNU Periode 2026–2031 Resmi Dilantik di Pesantren Al-Hamid

Foto: NU Online

JAKARTA (Mediaislam.id)–Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 resmi dilantik oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).

Pelantikan tersebut menandai dimulainya masa khidmah kepengurusan PBNU untuk lima tahun ke depan. Prosesi dilanjutkan dengan pembaiatan dan pengucapan ikrar oleh jajaran pengurus baru.

Dikutip Mediaislam.id dari NU Online, rangkaian pelantikan diawali dengan pembacaan tawasul, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathan, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh KH Fadlan Zainuddin dari Surah Al-Maidah ayat 1–2. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan Shalawat Badar yang diikuti para hadirin.

Sebelum prosesi baiat, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin membacakan Surat Keputusan Nomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026 tentang pengesahan komposisi dan personalia PBNU masa khidmah 2026–2031.

Keputusan tersebut merujuk pada hasil Sidang Pleno ke-4 dan Sidang Pleno ke-5 Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung pada 30–31 Agustus 2026.

“Bismillahirrahmanirrahim, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menimbang dan seterusnya, mengingat dan seterusnya, memperhatikan hasil Sidang Pleno ke-4 dan Sidang Pleno ke-5 Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada tanggal 17–18 Rabiul Awal 1448 H atau tanggal 30–31 Agustus 2026, dengan senantiasa bertawakal kepada Allah, seraya memohon taufik dan hidayah-Nya, memutuskan menetapkan surat keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” kata Gus Kikin saat membacakan SK.

Setelah pembacaan keputusan, KH Miftachul Akhyar memimpin prosesi baiat pengurus PBNU yang baru. Prosesi berlangsung di atas panggung dengan didampingi Gus Kikin dan tujuh Wakil Ketua Umum PBNU lainnya. Adapun pengurus lainnya berdiri di depan panggung untuk mengikuti pembaiatan.

Sebelum memulai prosesi, KH Miftachul Akhyar menjelaskan makna baiat sebagai ikrar spiritual yang memperkuat komitmen pengurus dalam menjalankan amanah organisasi.

“Yang harus kita cermati, baiat adalah inisiasi spiritual, janji setia. Baiat merupakan pembaruan, penguatan terhadap janji setia tersebut,” katanya.

Prosesi kemudian diawali dengan pembacaan dua kalimat syahadat dan dilanjutkan dengan ikrar bersama seluruh pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031.

Dalam ikrar tersebut, para pengurus menyatakan kesiapan untuk mengamalkan dan mempertahankan Pancasila serta UUD 1945, menegakkan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah, serta mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU beserta peraturan organisasi.

Pelantikan dan pembaiatan ini menjadi tahapan awal bagi kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031 untuk menjalankan amanah organisasi dan pengabdian kepada umat.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + 9 =