MUI DKI Cetak Kader Ulama Jadi Diplomat Non-Pemerintah

 MUI DKI Cetak Kader Ulama Jadi Diplomat Non-Pemerintah

JAKARTA (Mediaislam.id)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan MUI Pusat menggelar Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah Tingkat Dasar di Matraman, Jakarta, Kamis (22/10/2026). Pelatihan ini bertujuan mencetak kader ulama dan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam menjadi diplomat non-pemerintah (non-state actors) untuk memperkuat peran umat Islam di tingkat internasional.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Duta Besar Safira Machrusah, mengatakan diplomasi saat ini tidak hanya menjadi ranah korps diplomatik negara, tetapi juga perlu dikuasai aktor non-pemerintah.

“Diplomasi adalah seni dan ilmu berkomunikasi, bernegosiasi, serta membangun kesepahaman untuk mencapai kebaikan bersama,” ujarnya.

Menurut Safira, Islam Wasatiyah merupakan manhaj pertengahan yang menjunjung keadilan dan keadaban. Dalam konteks hubungan internasional, diplomat wasatiyah diharapkan menjadi jembatan penyejuk di tengah polarisasi global.

Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta, KH Nurhadi, menambahkan bahwa kemampuan komunikasi dan diplomasi penting bagi dai serta utusan umat dalam menyampaikan risalah kebaikan.

Dia merujuk pada keteladanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Mus’ab bin Umair, yang diutus ke Madinah sebelum peristiwa hijrah. Menurut dia, strategi dakwah tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan diplomasi yang terencana dalam meredakan ketegangan dan mempersiapkan masyarakat menerima perubahan.

“Strategi dakwah tersebut membuktikan bahwa pendekatan diplomasi yang terencana dengan baik mampu meredakan ketegangan dan menata kesiapan masyarakat,” tuturnya.

Nurhadi juga menekankan pentingnya prinsip keterbukaan atau tasamuh dalam organisasi dan interaksi sosial. Prinsip tersebut, kata dia, perlu diterapkan secara menyeluruh melalui semangat lil-musyarakah, bukan secara parsial.

Dia menjelaskan, kemampuan berkomunikasi merupakan instrumen penting untuk menyampaikan gagasan dan pesan moral kepada masyarakat luas.

Sementara itu, Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri MUI DKI Jakarta, Mohammad Idrus, menjelaskan bidang yang dipimpinnya memiliki dua tugas utama. Pertama, menjadi mitra strategis pemerintah atau sahibul hukumah untuk mendukung program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

“MUI DKI Jakarta berkomitmen untuk menjadi bagian penting bagi DKI Jakarta untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global dan berbudaya,” ujar Idrus.

Kedua, Bidang Kerja Sama Luar Negeri MUI DKI Jakarta menjalankan fungsi sebagai perpanjangan tangan Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Pusat.

“Melalui posisi ini, MUI DKI Jakarta siap mengejawantahkan seluruh program, komitmen, serta idealisme kelembagaan yang digariskan oleh pimpinan pusat secara nasional,” tuturnya.

Pelatihan tersebut diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai ormas Islam dan kader ulama. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas kaderisasi diplomat Islam Wasatiyah sekaligus mendukung visi Jakarta sebagai kota global dan berbudaya.

Para peserta mendapat materi dari sejumlah mantan Duta Besar Republik Indonesia, yakni Bunyan Saptomo, Yuli Mumpuni Widarso, dan Salman Al-Farisi.

Materi pelatihan meliputi prinsip Islam Wasatiyah, etika komunikasi, teknik negosiasi, mediasi, serta penyusunan makalah. Pemahaman peserta juga diuji melalui diskusi kelompok.

Peserta diharapkan menuntaskan seluruh tahapan pelatihan untuk memperoleh sertifikat resmi dari MUI Pusat. Setelah menyelesaikan tingkat dasar, mereka berpeluang melanjutkan pelatihan ke jenjang lanjutan.

Melalui program ini, MUI berharap kader ulama dan ormas Islam memiliki kecakapan diplomasi yang dapat memperkuat kontribusi umat dalam membangun dialog, mempererat hubungan antarbangsa, dan mendorong perdamaian dunia.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + twelve =