Hari Santri 2026, Din Syamsuddin Serukan Pesantren Bebas Perundungan dan Asusila
Prof. Dr. M. Din Syamsuddin.
JAKARTA (Mediaislam.id)–Pengasuh Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, menyerukan pembersihan lingkungan pesantren dari segala bentuk praktik perundungan (bullying) dan tindak asusila. Seruan tersebut disampaikannya bertepatan dengan momentum peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
”Lingkungan pesantren harus dibersihkan dari praktik perundungan dan permesuman,” tegas Din dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (22/10/2026).
Meski demikian, Din menegaskan bahwa keprihatinan ini tidak semestinya disematkan secara eksklusif kepada dunia pesantren. Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005–2015 tersebut, maraknya kasus kekerasan fisik maupun seksual kini telah merambah hampir seluruh sektor pendidikan, ruang publik, hingga lingkungan instansi pemerintahan.
Din menilai, fenomena perundungan dan tindakan asusila merupakan manifestasi dari ketimpangan struktur sosial masyarakat. Masalah ini dipicu oleh akumulasi ketidakadilan serta kekerasan multidimensi—mulai dari ranah sosial, politik, hingga ekonomi (capital violence).
Kondisi tersebut, lanjut Din, menimbulkan tekanan psikososial berat yang pada akhirnya mendorong anak-anak maupun orang tua mencari saluran pelepasan melalui tindakan menyimpang.
Selain problematika struktural, ia menyoroti laju revolusi informatika global dan implementasi kebijakan langit terbuka (open sky policy) yang ditempuh pemerintah. Kebijakan arus informasi tanpa filter dinilai menjadi salah satu faktor pemicu utama (triggering factor) meningkatnya agresi dan degradasi moral di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, Din mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat persoalan ini secara komprehensif, seraya menguatkan benteng moral dan pengawasan kolektif demi melindungi generasi muda di lembaga pendidikan manapun.*
