Sambangi PBNU, Habib Umar bin Hafidz Doakan Kepengurusan Baru dan Perkuat Sanad Keilmuan

 Sambangi PBNU, Habib Umar bin Hafidz Doakan Kepengurusan Baru dan Perkuat Sanad Keilmuan

Foto: NU Online

JAKARTA (Mediaislam.id)–Ulama terkemuka asal Yaman, Habib Umar bin Hafidz, melakukan kunjungan silaturahim ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (12/10/2026). Kedatangan ulama kharismatik tersebut disambut langsung oleh jajaran pimpinan syuriyah dan tanfidziyah PBNU.

​Di antara tokoh yang menyambut kehadirannya yakni Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PBNU KH Tajul Mafakhir, KH Afifuddin Dimyathi, KH Zulfa Musthofa, serta Katib Aam Prof M Nuh. Turut hadir mendampingi, Wakil Ketua Umum PBNU KH Muhammad Faiz Syukron Ma’mun, Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif, serta Wasekjen PBNU H Nur Hidayat dan H Zaimul Umam Nur Salim.

​Dikutip laman NU Online, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut Habib Umar menitipkan harapan agar NU terus berkontribusi serta memperluas kiprahnya bagi umat, baik di kancah nasional maupun global.

​”NU sekarang mudah-mudahan tambah bermanfaat, baik nasional maupun internasional. Terus berjuang meningkatkan peran dan fungsi daripada jamiyah,” ujar Kiai Afif.

​Kiai Afif juga menyampaikan kepada Habib Umar ihwal rampungnya perhelatan Muktamar ke-35 NU yang melahirkan kepengurusan baru untuk masa khidmah 2026–2031.

​”Saya sendiri menyampaikan bahwa NU baru saja melaksanakan Muktamar yang ke-35 dan berhasil melahirkan pengurus yang baru. Kemudian mohon didoakan mudah-mudahan amanah, gitu,” tuturnya.

​Senada dengan hal tersebut, Katib Aam PBNU Prof M Nuh menyatakan bahwa Habib Umar memberikan doa dan pesan agar pascamuktamar, NU senantiasa tumbuh, berkembang, serta membawa kemaslahatan bagi warga Nahdliyin maupun masyarakat global.

​”Itulah cita-cita kita semua. Kemanfaatan tidak hanya untuk warga kita, tetapi tentu warga kita plus masyarakat dunia,” kata Prof Nuh.

​Prof Nuh memandang momentum ini sebagai silaturahim penting antartokoh dan ulama besar guna merawat pertalian batin serta saling mendoakan secara langsung. Tak hanya itu, pertemuan tersebut diwarnai tradisi keilmuan berupa saling bertukar cinderamata kitab. Habib Umar menerima karya tulis dari KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Dimyathi, dan KH Zulfa Musthofa.

​”Lah, saling tukar-menukar hasil karya itu menjadi simbol sebenarnya dari para ulama itu. Salah satu kebahagiaan atau yang membahagiakan sekali sekaligus membanggakan itu kan apa? Bisa memberikan hasil karya berupa karya tulis, buku, kitab, pemikiran-pemikiran kepada para tokoh itu,” jelas mantan Menteri Pendidikan Nasional tersebut.

​Menurutnya, pertukaran literatur karya para kiai dan ulama tersebut bukan sekadar seremoni serah terima buku, melainkan pengikat transmisi tradisi intelektual Islam.

​”Itu bagian dari silaturahim keilmuan yang nanti bisa memperkuat sanad keilmuannya itu sendiri. Saya kira itu esensinya,” pungkas Prof Nuh.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − eight =