Penulis Ade Suhandi Dorong Guru Ubah Pengalaman Mengajar Menjadi Buku
Ade Suhandi
JAKARTA (Mediaislam.id)— Penulis buku self improvement, educator dan communication practitioner, sekaligus Kepala Sub Divisi Penyiaran Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ), Ade Suhandi, mendorong para guru mengubah pengalaman mengajar menjadi tulisan dan buku.
Menurut Ade, profesi guru tidak sekadar mengajar di ruang kelas. Di balik aktivitas tersebut terdapat beragam pengalaman berharga, mulai dari menghadapi siswa dengan karakter berbeda, menemukan metode pembelajaran, menghadapi kegagalan, hingga menyaksikan perubahan dalam diri peserta didik.
Ia menilai berbagai pengalaman tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan apabila didokumentasikan dan direfleksikan. Sayangnya, banyak pengalaman guru hanya berhenti sebagai cerita dan kemudian terlupakan.
“Guru tidak harus menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis. Guru cukup mulai mendokumentasikan apa yang sudah mereka alami, pikirkan, dan pelajari dari proses mengajar.”
Ade mengatakan, guru tidak perlu mencari bahan tulisan terlalu jauh. Bahan tersebut justru banyak ditemukan dalam keseharian mereka di ruang kelas.
Pengalaman menghadapi siswa, keberhasilan menerapkan metode pembelajaran, kegagalan dalam proses belajar mengajar, percakapan dengan orang tua, hingga perubahan kecil pada peserta didik dapat menjadi bahan tulisan.
Menurut dia, pengalaman akan berubah menjadi pengetahuan ketika seseorang bersedia melakukan refleksi. Guru dapat memulainya dengan menjawab sejumlah pertanyaan sederhana, seperti apa yang terjadi, apa yang dipelajari, dan apa manfaat pengalaman tersebut bagi orang lain.
“Saya percaya, pengalaman yang kita refleksikan bisa menjadi pengetahuan. Dan pengetahuan yang kita tuliskan bisa menjadi cahaya bagi orang lain,” ungkap Ade kepada Mediaislam.id, Kamis (8/10/2026).
Jangan Menunggu Sempurna
Ade mengungkapkan, salah satu alasan seseorang enggan menulis adalah merasa belum pandai menulis atau menunggu waktu yang dianggap tepat. Padahal, sebuah buku tidak harus dimulai dari ratusan halaman.
Menurut dia, guru dapat memulainya dari satu pengalaman, satu cerita, satu pembelajaran, atau bahkan satu halaman.
Sebagai penulis buku self improvement, Ade melihat aktivitas menulis juga dapat menjadi proses untuk memahami diri dan menemukan makna dari perjalanan hidup.
“Jangan menunggu tulisan sempurna untuk mulai menulis. Tulislah dulu pengalaman yang paling dekat dengan kita. Setelah itu, kita belajar memperbaikinya,” ujarnya.
Guru sebagai Produsen Pengetahuan
Ade juga menilai perkembangan era digital membuka ruang yang lebih luas bagi guru untuk berbagi pengetahuan. Guru tidak hanya dapat berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai produsen pengetahuan dan komunikator pendidikan.
Pengalaman mengajar, kata dia, dapat dikembangkan menjadi artikel, konten media sosial, materi webinar, podcast, hingga buku.
Sebagai Kepala Sub Divisi Penyiaran PPIJ, Ade melihat ruang komunikasi saat ini semakin terbuka. Menurut dia, masyarakat membutuhkan informasi yang edukatif, bermakna, dan lahir dari pengalaman nyata.
“Di era digital, guru jangan hanya menjadi konsumen informasi. Guru juga harus berani menjadi produsen pengetahuan,” kata Ade.
Menulis untuk Mewariskan Ilmu
Bagi Ade, buku bukan sekadar prestise. Buku dapat menjadi jejak pemikiran, dokumentasi perjalanan, sekaligus warisan ilmu.
Seorang guru dapat mengajar selama puluhan tahun. Namun, apabila pengalaman tersebut hanya disimpan dalam ingatan, suatu saat pengalaman itu dapat hilang. Sebaliknya, pengalaman yang dituliskan dapat terus memberikan pembelajaran meskipun sang guru sudah tidak lagi berada di ruang kelas.
Karena itu, Ade mengajak para guru mulai mendokumentasikan pengalaman mereka dalam bentuk tulisan.
Ia mendorong guru tidak hanya mengalami proses mengajar, tetapi juga merefleksikan dan membagikan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut.
“Jangan hanya mengajar. Dokumentasikan. Jangan hanya mengalami. Refleksikan. Jangan hanya berbagi di ruang kelas. Bagikan kepada dunia.”
Ade menekankan, guru tidak perlu menunggu tulisannya sempurna untuk memulai. Menurut dia, langkah awal dapat dilakukan dengan sederhana, yakni menuliskan satu pengalaman, satu pelajaran, atau satu kisah.
Sebab, buku selalu berawal dari halaman pertama yang berani ditulis. Tulisan yang dimulai hari ini pun berpotensi menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi guru, siswa, orang tua, maupun generasi mendatang.*
