Peringati Pekan Maulid Nabi, Presiden Erdogan Ajak Dunia Islam Perkuat Aliansi dan Redam Perselisihan
Presiden Erdogan [Anadolu]
Istanbul (Mediaislam.id) — Pemerintah Türkiye berkomitmen untuk memperkuat aliansi sekaligus meminimalkan perselisihan di antara negara-negara anggota serta seluruh kawasan dunia Islam.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya pada pembukaan program Pekan Mawlid al-Nabi di Istanbul, Jumat (28/8/2026).
“Kami percaya ada keutamaan dalam persatuan. Kami bekerja untuk memperkuat aliansi dan mengurangi perbedaan, baik di antara kami sendiri maupun di seluruh dunia Islam,” ujar Erdogan.
Erdogan berharap umat Islam—yang dalam sejarahnya pernah membentuk peradaban dan memberi ketertiban dunia selama berabad-abad—dapat kembali bersatu bagaikan susunan bata dalam sebuah bangunan yang kokoh.
Ia menekankan pentingnya persatuan umat Islam untuk membela hak-hak mereka serta bekerja sama dalam membangun perdamaian dan keamanan di kawasan.
“Kita sedang melalui perjuangan bersejarah antara kebaikan dan kejahatan. Insyaallah, kebaikan yang akan menang,” tegas Erdogan.
Dalam pidatonya, Erdogan menyoroti bahaya ideologi radikal, pendudukan, dan genosida Zionisme yang tidak hanya mengancam perdamaian negara-negara tetangga, tetapi juga menyerang siapa saja yang membela nilai-nilai kemanusiaan.
Ia memperingatkan bahwa masyarakat sipil telah membayar harga yang sangat mahal akibat ketiadaan tindakan dunia internasional menghadapi kekejaman masa lalu, sebagaimana era Hitler dan Pol Pot. Menurutnya, pembiaran serupa kini berulang di Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan Lebanon.
Erdogan menilai dunia telah gagal memberikan respons yang memadai terhadap kebijakan melanggar hukum dari jaringan genosida Israel yang mengabaikan aturan, prinsip, dan batas-batas kemanusiaan.
Ia mengungkapkan bahwa Gaza kini telah diubah menjadi “pemakaman anak-anak terbesar di dunia.” Bahkan, layang-layang yang diterbangkan anak-anak dianggap sebagai ancaman dan dihalangi oleh pasukan penduduk.
Erdogan menambahkan, masyarakat Palestina harus berjuang untuk bertahan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan tanpa akses ke kebutuhan pokok.
