Sosialisasi KHGT Butuh Proses, Mubalig Muhammadiyah Diimbau Tetap Istikamah
Ilustrasi: KHGT
Ponorogo (Mediaislam.id) – Tantangan paling berat yang dihadapi oleh para pendakwah agama Islam adalah konsisten atau istikamah. Maka, kader Muhammadiyah harus siap dan jangan mudah putus asa, kemudian menyerah.
Pesan itu disampaikan Dewan Pakar Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Zakiyuddin Baidhawy, pada Ahad (19/7/2026) dalam Pengajian Ahad Pagi Al Manar di Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
Menurut Zakiyuddin, kader sekaligus mubalig Muhammadiyah wajib belajar sejarah tentang konsistensi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw.
Selama 13 tahun dakwah di Makkah, Nabi baru mendapat 40 pengikut. Kemudian beliau hijrah ke Madinah dan berdakwah selama 10 tahun di sana. Islam akhirnya diterima, kemudian jumlah pemeluknya bertambah dan berkembang pesat menjadi lebih dari 100.000 orang.
Selain itu, kader dan mubalig Muhammadiyah juga perlu mendalami pembaruan yang dilakukan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
Zakiyuddin, dilansir dari Muhammadiyah.or.id, menyampaikan sejarah meluruskan arah kiblat masjid yang dilakukan Kiai Dahlan.
“Menegakkan risalah tauhid dibutuhkan jumlah ratusan nabi dan ratusan rasul. Lalu kalau Kiai Ahmad Dahlan dulu meluruskan kiblat ternyata butuh satu abad,” katanya.
Setelah satu abad, kini umat Islam di Indonesia ketika membangun masjid dimulai dengan mengukur arah kiblat.
Hal itu salah satu bukti betapa dakwah membutuhkan konsistensi atau istikamah. “Apalagi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) kan baru setahun yang lalu. Sabar Pak, kalau masih ada pro-kontra biasa gitu, kan mungkin butuh satu abad lagi,” kata Zakiyuddin.
“Jadi ujiannya berdakwah itu sejauh mana kita bisa konsisten dan bisa istikamah,” sambungnya. []
