Ketika Kampus Kehilangan Kompas

 Ketika Kampus Kehilangan Kompas

Oleh:

Dr. Salahuddin El Ayyubi  | Ketua Forum Peduli Indonesia Beradab

SEBUAH disrupsi senyap sedang berlangsung di jantung pendidikan tinggi kita. Perubahan tersebut tidak akan ditemukan dalam lembar laporan akreditasi, deretan angka pemeringkatan dunia, atau grafik publikasi ilmiah internasional. Tidak pula tercermin pada megahnya arsitektur gedung perkuliahan, kecanggihan laboratorium, maupun akselerasi jumlah dosen bergelar doktor dan profesor. Namun, dampaknya dipastikan jauh lebih destruktif bagi masa depan bangsa daripada seluruh indikator akademik tersebut.

Kampus-kampus kita hari ini tampil kian modern, kian digital, dan kian global. Namun di balik semua itu, ada satu kekosongan eksistensial yang mengerikan yaitu ketidakmampuan institusi pendidikan tinggi dalam menjawab arah pembentukan moral generasi mudanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, ruang akademik kita berulang kali diguncang oleh polarisasi tajam terkait eksistensi kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Perdebatan mengenai aktivitas komunitas, arah kemahasiswaan, hingga ekspresi identitas seksual terus memantik kontroversi melelahkan yang tak pernah benar-benar selesai. Satu kubu membentengi diri dengan tameng kebebasan individu dalam iklim demokratis, sementara kubu lainnya berdiri kokoh menjaga nilai agama dan moralitas ketimuran.

Namun, di tengah hiruk-pikuk yang semakin bising tersebut, kita abai mengajukan pertanyaan yang paling mendasar: Mengapa fenomena ini terus berkembang secara masif, dan mengapa kampus seolah kehilangan kapasitas strategis untuk meresponsnya?

Polemik LGBT sejatinya bukanlah fenomena yang berdiri di ruang hampa, tetapi ia adalah puncak gunung es dari krisis yang jauh lebih masif yaitu bangsa ini sedang kehilangan kendali atas proses pembentukan karakter generasi mudanya.

 

Antara Ruang Kelas dan Belantara Digital

Inilah paradok yang seharusnya mengusik rasa nyaman kita. Kampus-kampus berlomba menembus pemeringkatan global, namun di saat yang sama kita menyaksikan kepungan penyakit sosial yang mengerikan di kalangan mahasiswa. Grafik krisis kesehatan mental meroket; gangguan kecemasan, epidemik kesepian, burnout, hingga disorientasi tujuan hidup menjadi menu harian di lingkungan pendidikan tinggi. Kampus kita kian mahir mencetak sarjana yang kompeten secara teknis, tetapi tampak gagap membentuk manusia yang matang secara moral dan spiritual.

Krisis identitas ini bertumbuh subur seiring dengan melemahnya relasi keluarga dan derasnya penetrasi ideologi global yang mendefinisikan ulang makna kebebasan. Maka, kita harus berani menggugat: Siapa yang sesungguhnya sedang mendidik mahasiswa kita hari ini?

Selama beberapa dekade, kita hidup dalam asumsi romantis bahwa karakter mahasiswa ditempa lewat ruang kuliah, organisasi kemahasiswaan, dan keteladanan sosial. Namun, revolusi digital telah menjungkirbalikkan asumsi tersebut. Hari ini, mahasiswa kita menghabiskan waktu lebih banyak berinteraksi dengan algoritma ketimbang dengan dosennya. Mereka lebih intim mendengar narasi dari para influencer digital daripada petuah dari para ulama dan pemikir bangsa. Pandangan hidup, standar moral, dan defenisi kebahagiaan mereka telah didekonstruksikan ulang secara radikal oleh layar gawai yang menyala dua puluh empat jam.

Kampus telah kehilangan monopoli atas otoritas pengetahuan dan diganti ruang digital yang bermutasi menjadi kurikulum tersembunyi raksasa yang bekerja secara presisi mendikte cara generasi muda memahami kemanusiaan, keluarga, seksualitas, dan hakikat kebebasan itu sendiri. Sementara itu, kampus masih gagap menyadari bahwa medan pertempuran pendidikan telah berpindah dari ruang kelas menuju belantara jagat maya.

 

Obsesi Metrik dan Matinya Ruh Pendidikan

Dalam khazanah intelektual Islam, pendidikan tidak pernah direduksi hanya sebagai proses mekanis transfer pengetahuan (ta’lim). Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara utuh melalui konsep tarbiyah yaitu sebuah kerja kebudayaan untuk menumbuhkan seluruh potensi manusia secara simultan batik intelektual, spiritual, moral, dan sosial.

Sejarah mencatat bahwa institusi pendidikan Islam klasik seperti Universitas Al-Qarawiyyin, Al-Azhar, maupun Madrasah Nizamiyah tidak dikenang dunia karena kemegahan administrasi birokrasinya, melainkan karena kemampuannya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan keluhuran adab. Pada masa itu, disorientasi moral generasi muda tidak pernah dituduh sebagai dosa individu semata, melainkan sebuah sinyal bahaya atas rapuhnya ketahanan sebuah peradaban.

Tragedinya, perguruan tinggi kita hari ini sedang mengidap akut penyakit pemujaan akademik. Kampus-kampus terlampau sibuk menguras energi untuk mengejar akreditasi, memburu indeks sitasi, dan memoles borang pemeringkatan global demi gengsi korporat. Namun, mereka lupa merumuskan satu pertanyaan filosofis yang paling mendasar yaitu manusia seperti apa yang ingin mereka lahirkan dari rahim raksasa pendidikan ini?

Sangat ironis ketika kampus kian canggih mengukur indikator-indikator kuantitatif institusinya, tetapi kehilangan instrumen untuk mengukur kematangan, ketangguhan, dan tanggung jawab sosial mahasiswanya. Akibatnya, ketika gelombang perubahan nilai global menerjang, kampus hanya menyisakan dua pilihan reaksioner yaitu bersikap pasif-apologetis atau reaktif-represif. Kedua pilihan tersebut sama-sama menegaskan runtuhnya fungsi kepemimpinan intelektual kampus.

 

Merebut Kembali Kompas Peradaban

Mengurai kebuntuan ini pada akhirnya menuntut kita untuk melompat keluar dari jebakan polemik pro-kontra yang dangkal. Bangsa ini membutuhkan agenda besar yang jauh lebih substantif, yaitu membangun ketahanan generasi yang harus diejawantahkan ke dalam empat pilar transformasi yang nyata.

Pertama, kampus harus merevitalisasi sistem pembinaan karakter secara terstruktur, bukan sekadar menjadikannya seminar seremonial di masa orientasi mahasiswa baru. Kedua, kampus wajib memperkuat infrastruktur kesehatan mental; layanan konseling tidak boleh lagi sekadar bersifat kuratif untuk mengobati yang sakit, melainkan harus preventif-empatik untuk mendampingi mahasiswa yang sedang limbung dalam pencarian makna hidup. Ketiga, membangun literasi digital yang kritis sebagai bekal kemampuan mahasiswa menguliti cara kerja algoritma dan memilah propaganda ideologis dari produksi pengetahuan yang objektif. Keempat, seluruh ikhtiar tersebut harus diikat melalui rajutan kolaborasi struktural yang mempertemukan kembali institusi kampus dengan ekosistem keluarga, tokoh agama, dan komunitas masyarakat sipil.

 

Penutup

Tantangan terbesar dunia pendidikan di abad ke-21 bukanlah kelangkaan informasi, melainkan kelangkaan penuntun di tengah banjir bandang informasi. Sejarah dengan kejam telah berulang kali mempertontonkan bahwa sebuah bangsa tidak pernah runtuh oleh krisis ekonomi atau kekalahan militer semata. Banyak bangsa kehilangan masa depannya justru ketika mereka gagal menyiapkan generasi penerus yang memiliki ketahanan moral, kedewasaan intelektual, dan kejelasan identitas.

Indonesia tidak pernah kekurangan gedung kampus, dan tidak pula kekurangan kerumunan mahasiswa. Namun, kita sedang berada dalam fase kelangkaan institusi pendidikan yang mampu berdiri tegak sebagai penunjuk arah di tengah perang gagasan global. Pada akhirnya, kegelisahan terdalam kita hari ini bukanlah ketakutan akan kehilangan mahasiswa di ruang-ruang kelas. Melainkan sebuah kecurigaan yang menyakitkan, jangan-jangan kampus-kampus kita sendiri sedang kehilangan kompasnya untuk menunjukkan ke mana arah masa depan bangsa ini harus berlayar.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × one =