Mush’ab bin Umair, Pemuda ‘Ningrat’ yang Memikat Kota Mekah

 Mush’ab bin Umair, Pemuda ‘Ningrat’ yang Memikat Kota Mekah

Ilustrasi: Sahabat Mush’ab bin Umair berdakwah di Kota Yarsib. [AI]

Mush’ab bin Umair adalah seorang pemuda yang penuh gairah kemudaan, berperawakan proporsional, dan berwajah tampan. Selain itu, ia memiliki suara yang merdu dan tutur kata yang menawan.

Hampir tidak ada mata yang memandangnya kecuali jiwa akan langsung terpikat mencintainya. Begitu pula, hampir tidak ada suara yang terdengar di telinga melainkan hati akan cenderung condong kepadanya.

Ia selalu berpenampilan necis serta sangat memperhatikan pakaian dan citra fisiknya. Setiap orang yang melihatnya pasti mengetahui bahwa ia mendapatkan bagian yang melimpah dari kenikmatan hidup.

Ia pun memiliki aroma tubuh yang sangat wangi. Tidaklah ia melewati suatu majelis melainkan orang-orang di sana akan berkata, “Ini Mush’ab bin Umair telah datang.”

Mereka langsung mengenali kehadirannya dari aromanya yang harum semerbak. Kedua orang tuanya pun sangat menyayanginya, bahkan ibunya kerap melimpahkan banyak harta dari kekayaannya yang luas.

Kaum Quraisy sangat mengagumi ketampanan, kemudaan, keindahan pakaian, serta kelimpahan harta bendanya. Rasulullah saw. juga sering membicarakannya kepada para sahabat karena kekaguman beliau terhadap dirinya.

Namun, Mush’ab tidak menyukai aktivitas berburu seperti yang digemari oleh sebagian besar pemuda Quraisy lainnya. Ia juga tidak menyukai pembicaraan seputar harta dan bisnis sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para tetua Quraisy.

Tujuan utama hidupnya hanyalah ingin menjalani kehidupan yang tenang dan damai.

Pertemuan di Ruang Publik dan Hidayah Islam

Pada suatu hari di waktu duha, Mush’ab melangkah menuju masjid. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan dua kelompok pemuda dari rekan-rekan sebayanya.

Kelompok pertama hendak pergi berburu, sedangkan kelompok kedua menuju ke salah satu kedai hiburan untuk meminum khamar. Salah satu kelompok mengajaknya berburu dan kelompok lainnya mengajaknya minum khamar, tetapi ia menolak kedua ajakan tersebut.

Mush’ab lebih memilih pergi ke masjid untuk mendengarkan pembicaraan di tempat berkumpulnya kaum Quraisy. Belum lama ia tiba di masjid, ia langsung mendengar sebuah diskusi yang diikuti oleh para tetua Quraisy.

Mush’ab kemudian duduk di dekat majelis kaum tersebut. Mereka sedang berselisih dengan sengit mengenai seorang laki-laki yang mereka benci bersama.

Laki-laki tersebut dibenci karena ingin mengubah agama nenek moyang dan menggerakkan kaum fakir untuk melawan kaum kaya. Orang-orang di majelis itu berselisih, terkadang dengan nada keras dan di lain waktu dengan nada lembut.

Mush’ab mendengarkan seluruh perdebatan itu dengan saksama. Ia sangat berharap bisa mengetahui lebih dalam tentang urusan laki-laki yang sedang diperselisihkan oleh kaum tersebut.

Ia kemudian keluar dari masjid dan bergegas menuju rumah tempat Muhammad saw. dan para sahabat berkumpul (Darul Arqam). Setibanya di sana, ia mengetuk pintu lalu pintu pun dibukakan untuknya.

Ia masuk dan mengucapkan salam, kemudian duduk di saat orang-orang di dalam ruangan memandangnya dengan penuh kekaguman. Mereka kagum melihat penampilan, pakaian yang indah, serta parasnya yang rupawan.

Mush’ab mendengarkan khotbah Rasulullah saw. dengan saksama. Ia kemudian mendekat kepada beliau, mengulurkan tangannya, dan menyatakan diri masuk ke dalam agama yang baru tersebut.

Ujian Keimanan dan Boikot Keluarga

Pemuda itu menyembunyikan keislamannya selama beberapa waktu karena takut terhadap tekanan kaum Quraisy. Ia juga tidak memberi tahu ibunya tentang keislamannya karena ia sangat mencintai sang ibu dan tidak ingin menyakitinya.

Namun, Utsman bin Thalhah suatu hari melihatnya sedang mendirikan salat di masjid. Utsman langsung melaporkan hal tersebut kepada kaum Quraisy.

Seketika kaum Quraisy memusuhi dan mengucilkannya, begitu pula dengan kedua orang tuanya sendiri. Ia pun berubah menjadi seorang yang miskin, namun ia tetap menjadi pemuda penyabar yang menemukan segala bentuk penghibur lara di dalam Islam.

Tatkala siksaan terhadap kaum muslimin semakin hebat, Rasulullah saw. mengizinkan mereka untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Mush’ab pun ikut berhijrah bersama mereka.

Beberapa lama kemudian, ia kembali dari Habasyah ke Mekah dengan kondisi yang telah berubah drastis. Pakaiannya tampak compang-camping hingga nyaris tidak mampu menutupi tubuhnya, dan kulitnya yang dahulu halus kini berubah menjadi kasar.

Ketika Rasulullah saw. dan para sahabat melihat kondisinya yang memprihatinkan itu, beliau bersabda: “Sungguh, aku telah melihat pemuda ini, dan tidak ada di Mekah seorang pemuda Quraisy pun yang lebih dimanjakan dengan kenikmatan oleh kedua orang tuanya daripada dia. Kemudian, ia melepaskan semua itu demi mengejar kebaikan karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Menjadi Ulama Sahabat dan Duta Islam di Madinah

Mush’ab selalu setia menghadiri majelis Rasulullah saw. dan mendengarkan sabda beliau dengan sebaik-baiknya pendengaran. Pemuda itu menghafal tuntunan Rasulullah saw. dengan hafalan yang sangat matang hingga ia tumbuh menjadi salah satu sahabat yang fakih dan paling luas keilmuannya tentang agama.

Rasulullah saw. kemudian mengutusnya ke Madinah untuk mengajarkan Al-Qur’an dan agama kepada kaum muslimin di sana (Baiat Aqabah). Mush’ab pun berhasil menjalankan misinya dengan sukses hingga banyak kaum Ansar yang memeluk Islam.

Ketika musim haji menjelang, Mush’ab berangkat menuju Mekah bersama tujuh puluh orang laki-laki dari kaum Ansar. Sesampainya di Mekah, ia sama sekali tidak memikirkan keluarga atau ibunya terlebih dahulu, melainkan langsung pergi menemui Rasulullah saw.

Gugur Syahid sebagai Penjaga Panji Rasulullah

Mush’ab dipercaya membawa panji Rasulullah saw. dalam Perang Badar, dan ia berhasil kembali dengannya sebagai pemenang. Pada Perang Uhud, ia kembali dipercaya memegang panji tersebut.

Ketika serangan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin semakin menghebat, Mush’ab tetap berdiri kokoh dan tidak melepaskan panjinya. Tiba-tiba Ibnu Qami’ah menerjang ke arahnya, lalu mengayunkan pedang hingga memotong tangan kanan Mush’ab sampai panji tersebut terjatuh.

Mush’ab segera memungut panji itu dengan tangan kirinya. Namun, Ibnu Qami’ah kembali mengayunkan pedang dan memotong tangan kirinya, sementara Mush’ab tetap berupaya menjaga panji tersebut agar tetap tegak berkibar menggunakan kedua pangkal lengannya.

Ibnu Qami’ah kemudian memanah dada Mush’ab hingga ia gugur dan panji tersebut terjatuh bersamanya. Panji itu pun segera diambil alih oleh saudaranya, Abu ar-Rum, dan terus dipertahankan agar tetap berkibar tinggi sampai kaum muslimin kembali ke Madinah.

Kaum Quraisy kembali ke Mekah dengan membawa kemenangan, sementara kaum muslimin mulai memakamkan para syuhada mereka. Ketika giliran memakamkan Mush’ab, jasadnya ditemukan dalam posisi wajah menghadap ke tanah.

Kaum muslimin hendak mengafaninya, tetapi mereka tidak menemukan selembar kain pun kecuali pakaian pendek robek yang dikenakannya. Jika kain itu ditarik untuk menutupi kepalanya, maka kedua kakinya akan terlihat terbuka.

Sebaliknya, jika kain itu ditarik untuk menutupi kedua kakinya, maka kepalanya akan terlihat menyembul keluar. Di saat itulah, Rasulullah saw. dengan mata berkaca-kaca membacakan firman Allah Swt.:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-sunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS Al-Ahzab [33]: 23).

Beliau kemudian memerintahkan agar bagian atas tubuh Mush’ab ditutup dengan kain pakaiannya, sedangkan bagian bawahnya ditutup menggunakan rerumputan basah (idzkhar) yang segar. []

Karya: Taha Hussein (Dengan Penyesuaian), dalam “Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6”. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + fifteen =