Meneladani Nabi Ibrahim AS

 Meneladani Nabi Ibrahim AS

Ilustrasi

بسم الله الرحمن الرحيم

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ اِذْ قَالُوْا لِقَوْمِهِمْ اِنَّا بُرَءٰۤؤُا مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۖ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاۤءُ اَبَدًا حَتّٰى تُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗٓ . (الممتحنة.(٦٠:٤).

Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya. Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari (kekufuran)-mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah 60:4).

Ayat 4 Surat Al-Mumtahanah menjelaskan beberapa kalimat penting, yaitu Uswatun Hasanah (teladan yang baik), Buraau Minkum (bebas dari sifat kekafiran dan sesembahan mereka), Kafarnaa (kufur kepada gerak-gerik, ucapan, dan isi hati mereka), serta Al-‘Adawata wal-Baghdhaa (benci dan memusuhi mereka selama mereka belum beriman).

Namun jika ayat-ayat di atas dikorelasikan dengan ayat-ayat lain yang mengisahkan kehidupan Nabi Ibrahim AS, seperti Ayat 124 Surat Al-Baqarah tentang ujian Nabi Ibrahim, Ayat 67 Surat Ali Imran tentang ajaran Nabi Ibrahim yang toleran dan hiliim, serta Ayat 37 Surat Al-Hajj tentang ketakwaan yang sempurna, maka pembahasan ini menjadi lebih luas dan mendalam.

Pembahasan pertama adalah tentang Uswatun atau suri teladan. Kata Uswatun boleh dibaca dengan memfatahkan hamzahnya menjadi Aswatun, dan boleh pula dengan mendhammahkannya menjadi Uswatun.

Allah SWT memerintahkan umat Islam agar menjadikan Nabi Ibrahim AS dan orang-orang yang beriman bersamanya sebagai teladan dalam menegakkan tauhid dan ibadah hanya kepada Allah SWT.

فلكم أيها المؤمنون أسوة حسنة في إبراهيم ومن معه (القيام بالإيمان والتوحيد، والقيام بلوازم ذلك ومقتضياته، وفي كل شيء تعبدوا به الله وحده).

Wahai umat Islam, kamu wajib beruswah hasanah kepada Ibrahim beserta orang-orang yang sudah beriman mengikutinya. Kamu wajib menegakkan dan membela ketauhidan serta segala hal yang berkaitan dengannya, yaitu kewajiban beribadah hanya kepada-Nya.

Pembahasan kedua adalah tentang fanatik dalam bertauhid. Dalam ajaran Nabi Ibrahim AS tidak ada kompromi dengan kemusyrikan dan ajaran sesat lainnya.

إذ قالوا لقومهم إنا برءاؤا منكم

Ketika mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu.

وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ الله كفرنا بكم

Dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami menolak dan ingkar kepadamu.

Pembahasan ketiga adalah tentang memusuhi musuh-musuh Allah SWT.

وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا

Permusuhan dan kebencian di antara kami dan kamu telah ditetapkan sejak saat ini selama kamu berada dalam kekafiran.

وَحَتَّى تُؤْمِنُوا بِالله وَحْدَهُ

Sampai kamu mentauhidkan Allah SWT dengan cara beribadah hanya kepada-Nya.

Mereka melepaskan diri dari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah SWT, baik berupa berhala maupun tandingan-tandingan-Nya.

Jika penjelasan ayat di atas dikaitkan dengan kisah kehidupan Nabi Ibrahim AS secara keseluruhan, maka terdapat beberapa pelajaran besar lainnya.

Nabi Ibrahim AS diuji dengan tiga puluh macam ujian dan semuanya dapat beliau selesaikan dengan baik dan sempurna. Allah SWT berfirman:

وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّۗ

(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Rabb-nya dengan beberapa ujian, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. (QS. Al-Baqarah 2:124).

Ujian yang paling berat bagi Nabi Ibrahim AS adalah perintah menyembelih putranya sendiri. Namun Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor gibas dari surga.

Sebagai umat yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim AS, kita disunnahkan menyembelih hewan kurban. Jika sekarang kita tidak mau menyembelih hewan kurban sebagai pengganti penyembelihan anak, maka apakah boleh menyembelih anak? Tentu tidak boleh dan hukumnya dosa besar. Di sinilah tampak kemurahan ajaran Islam yang dibawa Nabi Ibrahim AS sebagai ajaran yang *samhah* dan penuh kasih sayang.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ

Dialah Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS. Al-Mulk 67:2).

Hidup dan mati manusia dipertaruhkan untuk beramal saleh. Siapa yang paling baik amalnya akan memperoleh pahala surga, sedangkan siapa yang berbuat maksiat akan menanggung akibatnya sendiri.

Pembahasan berikutnya adalah tentang pendidikan ikhlas. Ketika seseorang berkurban, Allah SWT menegaskan:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ

Daging hewan kurban dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. (QS. Al-Hajj: 37).

Allah SWT tidak menilai bentuk lahiriah ibadah semata, tetapi melihat ketakwaan dan ketulusan hati.

Hal ini dicontohkan dalam kisah kurban Habil dan Kabil. Allah menerima kurban Habil karena ia mempersembahkan hewan terbaik dengan penuh keikhlasan. Sedangkan kurban Kabil ditolak karena tidak ikhlas dan lebih didorong oleh hawa nafsu duniawi.

Pada zaman dahulu, tanda diterimanya kurban adalah disambar api dari langit. Ketika kurban Habil dijilat api, itu menjadi tanda diterima oleh Allah SWT. Sedangkan kurban Kabil yang tidak dijilat api menjadi tanda penolakan.

Dalam syariat Nabi Muhammad SAW, tanda-tanda seperti itu tidak lagi tampak secara lahiriah. Ketulusan amal hanya diketahui oleh Allah SWT.

Pembahasan terakhir adalah bahwa umat Islam bukan umat yang ekstrem. Islam bukan agama terorisme, anarkisme, ataupun kekejaman.

Jika Nabi Ibrahim AS benar-benar menyembelih Nabi Ismail AS, tentu ajaran beliau akan dianggap kejam dan melanggar nilai kemanusiaan. Namun Allah SWT justru mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan.

Allah SWT berfirman:

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ

Kami menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash-Shaffat 37:107).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama kasih sayang, bukan agama kekerasan.

Allah SWT juga berfirman:

مَا كَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang hanif lagi berserah diri (muslim). (QS. Ali Imran 3:67).

Ibrahim AS adalah sosok yang hanif, santun, bijak, dan toleran. Karena itu Allah SWT memerintahkan umat Islam agar mengikuti ajaran beliau.

فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ

Maka ikutilah agama Ibrahim yang hanif. (QS. An-Nisa 4:125).

Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW merupakan kelanjutan dari ajaran Nabi Ibrahim AS. Karena itu Islam adalah agama yang toleran, harmonis, rasional, dan penuh kebijaksanaan, bukan agama radikal dan anarkis.

Jika ada orang yang menyebut Islam sebagai agama radikal bahkan teroris, maka sesungguhnya ia gagal memahami nilai-nilai Islam yang diajarkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW, yaitu ajaran yang santun, bijaksana, dan ramah terhadap umat manusia.

Dari seluruh penjelasan di atas, kita wajib mengambil pelajaran bahwa ajaran Nabi Ibrahim AS adalah ajaran tauhid yang disertai akhlakul karimah dan wajib diikuti.

Adapun syariat yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim AS terbagi menjadi dua: ada syariat yang diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW dan ada pula syariat yang disempurnakan.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga kita mampu beruswah hasanah kepada Nabi Ibrahim AS. Amin. Wallahua’lam.

KH Badruddin Subky
Pimpinan Ponpes Al Badar Bogor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four − 2 =