Kajian di Bekasi, Ustaz Fahmi Salim: Israel Melihat Iran dalam Dua Wajah Berbeda
Bekasi (Mediaislam.id)–Direktur Baitul Maqdis Institut, Ustaz Fahmi Salim (UFS), menyatakan Iran memiliki dua citra dalam imajinasi Israel, yakni sebagai penyelamat sekaligus ancaman bagi bangsa Yahudi.
Hal itu disampaikan UFS dalam Kajian Sehari Bersama Dewan Dakwah (SBDD) bertema Palestina: Jantung Geopolitik Dunia dan Ujian Persatuan Umat Islam di Era Modern yang digelar Dewan Dakwah Kota Bekasi, di Masjid Al Muslimun Bekasi, Ahad (12/4/2026), bertepatan dengan rangkaian Silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah.
Menurut UFS, citra positif Iran berakar pada sejarah Persia melalui tokoh Cyrus the Great. Ia menyebut Cyrus dikenang karena membebaskan bangsa Yahudi dari penawanan di Babilonia serta memberi izin untuk kembali ke Palestina dan membangun Bait Suci.
“Memori itu masih melekat dalam ingatan bangsa Yahudi hingga saat ini,” kata UFS.
Namun, di sisi lain, Iran juga dipandang sebagai ancaman. UFS menyebut Israel mengaitkan Iran dengan sosok Haman, yang dalam tradisi disebut sebagai musuh bangsa Yahudi.
“Rezim Iran modern dipersepsikan sebagai ancaman serius,” ujarnya.
UFS kemudian menyinggung Surah Ar-Rum yang mengisahkan konflik antara Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Persia. Ia menilai ayat tersebut perlu dipahami dalam konteks keseimbangan kekuatan global, bukan sebagai dasar dukungan ideologis.
Menurut dia, kemenangan Romawi pada masa Nabi Muhammad disambut umat Islam bukan karena kesamaan akidah, melainkan untuk mencegah dominasi tunggal Persia yang berpotensi mengancam pertumbuhan awal peradaban Islam.
“Ini pelajaran geopolitik, bahwa dukungan tidak selalu berarti pembenaran secara akidah,” kata UFS.
Dalam konteks kekinian, UFS menilai umat Islam perlu bersikap realistis dalam membaca konflik global, termasuk di Timur Tengah. Ia menegaskan dukungan terhadap suatu pihak dapat bersifat strategis, bukan ideologis.
UFS juga menyinggung peran Iran dalam mendukung Palestina, namun mengingatkan agar hal tersebut tidak menghapus keterlibatan Iran dalam konflik lain di kawasan seperti Suriah, Yaman, dan Irak.
“Kita tidak bisa memutihkan semua tindakan. Harus tetap kritis,” ujarnya.
Ia menambahkan, di tengah kondisi umat Islam yang belum solid, diperlukan penguatan pemahaman keislaman agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi geopolitik global.
“Yang perlu dilakukan adalah edukasi umat dan penguatan dasar-dasar keislaman,” kata UFS.*
