Islam Membawa Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Hidup

 Islam Membawa Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Hidup

Prof Irfan Syauqi Beik

Jakarta (Mediaislam.id) – Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, ajaran Islam dinilai mampu menjadi sumber ketenangan hidup. Hal tersebut disampaikan oleh Dekan IPB University Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik SP MSc saat menyampaikan Khotbah Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah di Masjid Agung Sunda Kelapa, Sabtu (21/3/2026).

Dalam khotbahnya, Irfan menyampaikan bahwa Idulfitri merupakan momen kebahagiaan yang dipenuhi kedamaian, ketenangan, dan optimisme. Namun, ia mengingatkan umat Islam untuk tidak melupakan saudara-saudara di berbagai belahan dunia yang tengah menghadapi musibah, khususnya di Palestina dan kawasan Timur Tengah.

“Semoga Allah SWT mengangkat segala musibah dan cobaan yang menimpa mereka, serta menggantinya dengan keberkahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini berada dalam era ketidakpastian yang ditandai dengan meningkatnya konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Timur Tengah, fluktuasi ekonomi global, krisis energi dan pangan, hingga perubahan teknologi yang sangat cepat.

Menurutnya, berbagai indikator global seperti World Uncertainty Index dan Indeks Risiko Geopolitik menunjukkan tren peningkatan dalam dua tahun terakhir. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan hanya berada di kisaran 3,3 persen dan berpotensi melemah jika konflik berkepanjangan terus terjadi.

“Kondisi ini menggambarkan bahwa dunia sedang berada dalam fase fragile recovery, yaitu pemulihan ekonomi yang rapuh pasca pandemi Covid-19,” jelasnya.

Situasi tersebut, lanjut Irfan, membuat perekonomian global rentan terhadap krisis, terutama akibat ketimpangan pertumbuhan antar sektor. Sektor keuangan dan teknologi berkembang pesat, sementara sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tertinggal, sehingga berdampak pada rendahnya penyerapan tenaga kerja.

Di dalam negeri, kondisi ekonomi juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Penurunan daya beli, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta ketimpangan ekonomi turut meningkatkan kecemasan masyarakat.

Irfan mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia yang menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah meningkatkan angka kecemasan dan depresi secara global hingga 25 persen. Di Indonesia, survei kesehatan mental remaja menunjukkan bahwa sekitar 34,8 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan sebagai salah satu yang tertinggi.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis yang kita hadapi bukan hanya krisis ekonomi, tetapi juga krisis psikologis,” ujarnya.

Dalam situasi tersebut, Irfan menegaskan bahwa Islam hadir sebagai solusi yang mampu memberikan ketenangan jiwa. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28 yang menyatakan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Menurutnya, ketenangan hidup tidak bergantung pada kepastian duniawi, melainkan pada kedekatan dengan Allah SWT.

“Banyak orang memiliki jabatan dan harta, tetapi tetap gelisah. Ketenangan sejati hanya datang dari hubungan spiritual dengan Allah,” kata Irfan.

Deputi Sekjen WZWF (World Zakat and Waqaf Forum) itu kemudian memaparkan tiga pilar utama untuk meraih ketenangan hidup.

Pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa disebut sebagai kompas kehidupan yang memberikan arah dan solusi atas setiap persoalan, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Talaq ayat 2.

Kedua, bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menggabungkan ikhtiar maksimal dengan doa dan ketergantungan hati kepada Allah. Sikap ini diyakini mampu menghilangkan kecemasan akibat ketidakpastian masa depan.

Ketiga, membangun sikap syukur dan sabar. Irfan menekankan bahwa syukur akan menghadirkan rasa cukup, sementara sabar menjadi kunci dalam menghadapi ujian hidup. Ia juga mengutip Surah Ibrahim ayat 7 tentang janji Allah untuk menambah nikmat bagi orang yang bersyukur.

Lebih lanjut, Irfan menjelaskan bahwa ibadah puasa Ramadhan merupakan “madrasah ketenangan jiwa” yang melatih kesabaran, pengendalian diri, kedekatan dengan Allah, serta kepedulian sosial melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Namun, ia menegaskan bahwa tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi nilai-nilai tersebut setelah Ramadhan berakhir.

Mengacu pada Surah Ali Imran ayat 17, Irfan menyebutkan enam amalan yang perlu dijaga, yaitu kesabaran, kejujuran, ketaatan, semangat berbagi, memperbanyak istighfar khususnya di sepertiga malam, serta menjaga ukhuwah dan kebersamaan umat.

“Jika enam amalan ini dijaga secara konsisten, insya Allah kita akan senantiasa dalam lindungan Allah SWT,” tuturnya.

khotbah tersebut ditutup dengan doa agar seluruh amal ibadah umat Islam diterima dan membawa keberkahan dalam kehidupan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × two =