Umat Islam Harus Kuat dalam Ibadah dan Unggul dalam Ekonomi
Bogor (Mediaislam.id) – Pembina Masjid Ibn Khaldun Bogor, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, menegaskan pentingnya umat Islam menjaga keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan aktivitas ekonomi.
Menurutnya, seorang Muslim tidak boleh memisahkan antara kesalehan spiritual dengan kegiatan muamalah seperti bekerja dan berdagang. Demikian sampaikan Kiai Didin usai pelaksanaan salat tahajud dalam rangkaian iktikaf pada Senin dini hari (16/3/2026) di Masjid Ibn Khaldun Bogor.
Dalam tausiyahnya, Kiai Didin mengutip firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 37–38 yang menjelaskan tentang orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, serta menunaikan zakat. Mereka melakukan itu karena takut pada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang, yakni hari kiamat.
Ayat tersebut juga menyebutkan bahwa Allah akan memberikan balasan yang lebih baik atas amal mereka dan menambah karunia-Nya. Allah bahkan memberikan rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Menurut Kiai Didin, ayat tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan ibadah mahdhah seperti salat tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan seorang Muslim.
“Seorang Muslim dengan kegiatan muamalah seperti bekerja, termasuk berniaga atau berdagang, dengan ibadah mahdhah seperti salat itu tidak dipisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan,” ujarnya.
Ia mencontohkan kehidupan para sahabat Nabi yang banyak berprofesi sebagai pedagang dan memiliki kemampuan ekonomi yang kuat. Meski demikian, mereka tetap menempatkan ibadah sebagai prioritas utama.
“Para sahabat banyak yang ahli dalam ekonomi. Tetapi ketika azan berkumandang mereka berbondong-bondong ke masjid untuk salat berjamaah. Setelah itu mereka juga gemar berinfak untuk kepentingan sosial dan perjuangan,” katanya.
Kiai Didin juga mengungkapkan bahwa banyak sahabat Nabi yang dikenal sebagai pedagang ulung. Bahkan, menurutnya, sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga memiliki latar belakang sebagai pedagang.
“Ini menggambarkan bahwa umat Islam harus aktif dalam urusan dunia, termasuk ekonomi. Namun ibadah di masjid tetap menjadi yang utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kedekatan seorang Muslim dengan masjid akan membentuk karakter yang jujur dan berintegritas dalam aktivitas ekonomi. Pedagang yang rajin ke masjid, menurutnya, akan terhindar dari praktik curang seperti menipu, mengurangi timbangan, atau melakukan kecurangan lainnya.
“Mereka mencari keberkahan dalam usaha, bukan sekadar keuntungan,” kata Kiai Didin.
Karena itu, ia mengingatkan agar umat Islam tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan ibadah. Pasar, kampus, hingga pemerintahan, menurutnya, harus tetap memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai masjid.Ceramah Agama Online
“Jangan pisahkan pasar dengan masjid, kampus dengan masjid, termasuk pemerintah dengan masjid,” tegasnya.
Kiai Didin juga menekankan bahwa umat Islam harus mampu berjaya dalam bidang ekonomi maupun politik, namun tetap menjaga sikap tawadhu dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Menurutnya, salah satu tujuan dari ibadah iktikaf di bulan Ramadan adalah memperkuat kualitas ibadah mahdhah sekaligus membentuk pribadi Muslim yang unggul dalam aktivitas muamalah.
“Melalui iktikaf, kita menguatkan ibadah kepada Allah sekaligus mempersiapkan diri agar mampu menjadi yang terbaik dalam kehidupan sosial dan ekonomi,” tandasnya. []
